3 Catatan Akuntansi

Catatan Akuntansi terdiri dari :
1. Jurnal
2. Buku Besar

1. Jurnal
Pengertian: Catatan permanen akuntansi pertama (book of original entry) untuk merekam transaksi perusahaan secara berurut berdasarkan tanggal terjadinya sesuai dengan prinsip pencatatan ganda (double bookeeping entries).

Sebagai catatan pertama :
– harus lengkap dan
– memudahkan pengusutan ke dokumen sumber

Alasan pentingnya Jurnal Khusus :

  • Untuk mengumpulkan dan mengelompokkan transaksi sejenis yang frekuensinya tinggi
  • Efisiensi posting ke Buku Besar Umum
  • Pembagian tugas menjurnal ke beberapa orang
  • Menciptakan pengendalian intern

Prinsip Perancangan Jurnal

  • Tersedia jumlah Jurnal yang memadai, sesuai dengan meningkatnya transaksi bisnis
  • Mungkinkan Jurnal sebagai pemisahan transaksi ke dalam penggolongan pokok tertentu (Penerimaan Kas,Pengeluaran Kas, Pembelian, Penjualan)
  • Gunakan Kolom-kolom khusus, untuk transaksi yang berkaitan dengan pos keuangan yang sering terjadi
  • Nama kolom adalah nama rekening dalam buku besar
  • Jumlah angka dalam suatu kolom dapat diposting ke buku besar (Efisiensi posting)     
  • Diciptakan penghubung ke bukti sumber/transaksi

2. Buku Besar
Buku Besar : Kumpulan Rekening catatan keuangan perusahaan yang akan disajikan dalam laporan keuangan sesuai dengan prinsip tata buku berpasangan (double entry bookeeping).

Jenis Rekening  (Account) :
1. (Control Account)
2. (Subsidiary account)

1. (Real Account)
2. (Nominal Account)

Fungsi Rekening :
1. Untuk mencatat.
2. mengklasifikasikan

Kode Rekening
Untuk memudahkan mengenali rekening maka diberikan identitas ringkas berupa kode unik untuk setiap rekening yang terdiri dari huruf atau angka atau kombinasi dari keduanya.

Sistem pengkodean rekening yang banyak digunakan diantaranya :
1. Kode Angka atau Alfabet Urut
2. Kode Angka Blok
3. Kode Angka Kelompok/grup
4. Kode Angka Desimal

Sumber :
Azhar Susanto.Sistem Informasi Akuntansi, Bandung : Lingga Jaya
Bodnar, George H. & William S. Hopwood.Accounting Information Systems, New Jersey : Pearson- Prentice Hall
McLeod, Raymond, Jr. and George Schell.Management Information Systems.New Jersey : Pearson- Prentice Hall
Mulyadi, Sistem Akuntansi. Yogyakarta : Bagian Penerbitan STIE YKPN
Romney, Marshall B. & Paul John Steinbart.Accounting Information Systems, New Jersey : Pearson- Prentice Hall
Wilkinson, Cerullo, Raval, Wong-On-Ming.Accounting Information Systems.New York: John Wiley and Sons Inc.
Tugas: Berikan Ulasan ringkas tentang materi ini menurut pandangan anda atau dilihat dari referensi lain yang anda baca dan upload pada tag komentar (Comment) ini. Jangan lupa menyertakan identitas NIM, Nama, Kelas dan Mata kuliah – SIA

19 Responses to 3 Catatan Akuntansi

  1. Afifah Utami Putri says:

    1400668 / Afifah Utami Putri / 2014-A / SIA

    Catatan akuntansi terdiri dari:
    1. Buku Jurnal yaitu merupakan catatan akuntansi yang dilaksanakan oleh Fungsi Akuntansi sebagai media untuk (1) mencatat transaksi keuangan penerimaan kas berdasarkan dokumen transaksi yang sah, dan (2) menggolongkan transaksi keuangan ke dalam rekening-rekening (akun).
    Transaksi keuangan yang telah dicatat dan digolongkan ke dalam Buku Jurnal, selanjutnya secara periodik diposting ke dalam Buku Besar.
    2. Buku Besar yaitu merupakan catatan akuntansi yang dilaksanakan oleh Fungsi Akuntansi sebagai media untuk (1) meringkas catatan transaksi keuangan yang telah digolongkan ke rekening-rekening (akun), (2) memberikan informasi saldo rekening-rekening dimaksud secara akumulatif.

    Fungsi jurnal meliputi :
    1. Fungsi historis, yaitu jurnal merupakan kegiatan mencatat semua transaksi keuangan secara kronologis atau berurutan sesuai dengan tanggal terjadinya.
    2. Fungsi mencatat, yaitu jurnal merupakan pencatatan yang lengkap terperinci, artinya semua transaksi dengan sumbernya harus dicatat tanpa ada yang ketinggalan.
    3. Fungsi analisis, yaitu jurnal menganalisis transaksi untuk menentukan akun yang harus di Debet maaupun yang di Kredit.
    4. Fungsi instruktif, yaitu jurnal merupakan perintah memposting dalam buku besar baik yang di Debet maupun yang di Kredit sesuai hasil analisis dalam jurnal.
    5. Fungsi informatif, yaitu jurnal memberikan keterangan kegiatan perusahaan secara jelas.

    Jurnal sangat penting dalam suatu sistem akuntansi karena adanya beberapa karakteristik berikut,
    a. Jurnal merupakan pencatatan akuntansi permanen pertama yang digunakan untuk mencatat transaksi keuangan perusahaan.
    b. Pencatatan dalam jurnal biasanya lengkap dan terinci, serta menurut urutan tanggal kejadian transaksi.
    c. Jurnal harus dirancang sedemikian rupa karena jurnal merupakan catatan akuntansi yang pertama, sehingga tidak boleh terjadi satu transaksi pun yang tidak dicatat.
    d. Catatan yang dilakukan di dalam jurnal biasanya lengkap dengan penfjelasan, tanggal, dan informasi lain, karena akan digunakan untuk mengusut kembali ke dokumen sumbernya (formulir).
    Jika transaksi perusahaan masih sedikit, jurnal umum sudah cukup memadai. Namun, jika transaksi sudah mulai banyak, maka dibutuhkan tambahan yang biasa disebut jurnal khusus, yang mana diperlukan karena:
    – Untuk mengumpulkan dan menggolongkan transaksi yang sama yang frekuensinya terjadinya tinggi.
    – Untuk mengurangi pekerjaan pembukuan ke dalam buku besar dan untuk menggolongkan transaksi yang dicatat.
    – Untuk memungkinkan pengerjaan pencatatan transaksi ke dalam jurnal dilakukan oleh beberapa orang.
    – Untuk menciptakan pengawasan intern.
    Adapun prinsip-prinsip yang melandasi perancangan jurnal :
    1. Harus tersedia jurnal dalam jumlah yang cukup memadai sehingga memungkinkan perusahaan untuk menggunakan karyawan dalam mencatat dengan segera transaksi keuangan yang terjadi.
    2. Jurnal akan digunakan untuk memisahkan transaksi ke dalam penggolongan pokok tertentu, seperti penerimaan kas, pengeluaran kas, penjualan dan pembelian.
    3. Untuk mengurangi pekerjaan pembukuan yang terinci harus digunakan kolom-kolom khusus dalam jurnal, sehingga memungkinkan pembukuan (posting) jumlah per kolom ke dalam rekening yang bersangkutan di dalam buku besar.
    4. Nama kolom dalam jurnal harus sesuai dengan nama rekening yang bersangkutan dalam buku besar, yang akan menerima jumlah yang akan dibukukan dari jurnal.
    5. Kolom-kolom dalam jurnal digunakan untuk mengumpulkan angka yang akan diringkas dalam rekening yang bersangkutan dalam buku besar.
    6. Sedapat mungkin jurnal harus dirancang sedemikian rupa sehingga pekerjaan menyalin informasi dari dokumen sumbernya dibuat sangat minimum.
    7. Harus ditetapkan hubungan antara dokumen sumber tertentu dengan jurnal sehingga pertanggung jawaban kebenaran informasi dapat ditentukan.

    Daftar Pustaka.
    Yusuf, Junaedi & Dr. Erhans A. 2000. Akuntansi Berdasarkan Prinsip Akuntansi Indonesia. Jakarta: PT. Ercontara Rajawali
    S. Purnomo, Budi. 2006. Accounting Principles I. Sumedang: Pusat Pelayanan dan Pengembangan Ekonomi (P3E)
    http://anisoerya.blogspot.co.id/2012/12/catatan-akuntansi.html
    http://milamashuri.wordpress.com/jurnal-umum/
    http://auaudindin.blogspot.co.id/2012/03/catatan-akuntansi.html

  2. Dyta Permatasari says:

    1401343/DYTA PERMATASARI/2014-A/SIA
    JURNAL
    Jurnal adalah alat untuk mencatat transaksi-transaksi yang terjadi diperusahaan yang dilakukan secara kronologis (berdasarkan urut waktu terjadinya) dengan menunjukan rekening yang harus didebet dan dikredit beserta jumlah rupiahnya masing-masing.
    Menurut Dr. Erhans dan Junaedi Yusuf (2000:76)
    Jurnal yaitu formulir yang digunakan untuk mencatat dan mengelompokkan transaksi secara kronologis. Adapun proses pencatatan dapat digambarkan sebagai berikut:
    Transaksi yang terjadi >> Surat bukti pembukuan >> Jurnal >> Perkiraan >> Neraca saldo
    Fungsi jurnal meliputi :
    1. Fungsi historis, yaitu jurnal merupakan kegiatan mencatat semua transaksi keuangan secara kronologis atau berurutan sesuai dengan tanggal terjadinya.
    2. Fungsi mencatat, yaitu jurnal merupakan pencatatan yang lengkap terperinci, artinya semua transaksi dengan sumbernya harus dicatat tanpa ada yang ketinggalan.
    3. Fungsi analisis, yaitu jurnal menganalisis transaksi untuk menentukan akun yang harus di Debet maaupun yang di Kredit.
    4. Fungsi instruktif, yaitu jurnal merupakan perintah memposting dalam buku besar baik yang di Debet maupun yang di Kredit sesuai hasil analisis dalam jurnal.
    5. Fungsi informatif, yaitu jurnal memberikan keterangan kegiatan perusahaan secara jelas.

    Jurnal sangat penting dalam suatu sistem akuntansi karena adanya beberapa karakteristik berikut :
    a. Jurnal merupakan pencatatan akuntansi permanen pertama yang digunakan untuk mencatat transaksi keuangan perusahaan.
    b. Pencatatan dalam jurnal biasanya lengkap dan terinci, serta menurut urutan tanggal kejadian transaksi.
    c. Jurnal harus dirancang sedemikian rupa karena jurnal merupakan catatan akuntansi yang pertama, sehingga tidak boleh terjadi satu transaksi pun yang tidak dicatat.
    d. Catatan yang dilakukan di dalam jurnal biasanya lengkap dengan penfjelasan, tanggal, dan informasi lain, karena akan digunakan untuk mengusut kembali ke dokumen sumbernya (formulir).

    BUKU BESAR
    Buku Besar yaitu merupakan catatan akuntansi yang dilaksanakan oleh Fungsi Akuntansi sebagai media untuk (1) meringkas catatan transaksi keuangan yang telah digolongkan ke rekening-rekening (akun), (2) memberikan informasi saldo rekening-rekening dimaksud secara akumulatif.
    Rekening adalah judul suatu catatan akuntansi yang umumya berbentuk T, yang dibagi dua bagian, sebelah kiri disebut debit dan sebelan kanan disebut kredit, sebagai alat untuk mengklasifikasikan dan mencatat transaksi berdasar prinsip tata buku berpasangan (double entry bookeeping).
    FORMULIR REKENING BUKU BESAR
    Di atas sudah disebutkan bahwa rekening buku besar umumnya berbentuk T, yang merupakan catatan akuntansi yang dibagi dua secara vertikal, sebelah kiri disebut debit dan sebelah kanan disebut kredit.
    Ada berbagai variasi bentuk formulir rekening buku besar:
    1. Rekening dengan debit lebar (wide debit ledger)
    2. Rekening biasa (regular ledger)
    3. Rekening berkolom saldo di tengah (center balance ledger)
    4. Rekening berkolom saldo (balance ledger)
    5. Rekening ganda berkolom saldo (doubel ledger with balance ledger)
    6. Rekening dengan saldo lama dan saldo baru (old and new balance ledger)
    KODE REKENING
    Pemberian kode untuk klasifikasi rekening diperlukan karena dapat memudahkan untuk mencari rekening-rekening yang diinginkan. Apabila pembukuan dilakukan dengan mesin maka kode ini tidak dapat dihindarkan dan menjadi sangat penting dan menjadi sangat penting.
    Kode rekening harus disusun secara konsisten. Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk dalam memberikan kode yaitu dengan angka, huruf ataupun kombinasi keduanya. Tidak memandang cara mana yang digunakan, kode yang diberikan harus dapat memenuhi syarat-syarat sbb:
    a. Memungkinkan adannya perluasan rekening tanpa harus mengadakan perubahan kode.
    b. Harus mudah diingat
    c. Memudahkan bagi pihak yang menggunakan.
    Berikut uraian tentang penggunaan Kode Kelompok, Blok dan Kode Desimal untuk memberi kode rekening sbb:
    1. Kode Kelompok (Group Code)
    Kode kelompok mempunyai sifat-sifat khusus sbb:
    a. Posisi masing-masing angka mempunyai arti di mana angka paling kiri adalah kode kelompok dan angka paling kanan kode jenis rekening.
    b. Kode kelompok akan terdiri dari angka-angka yang sudah diperkirakan terlebih dahulu.
    c. Setiap kode dalam klasifikasi menggunakan jumlah angka yang sama.
    d. Jika terjadi penambahan kelompok rekening, dpat dilakukan dengan mengubah angka paling kiri.
    Misalnya, klasifikasi rekening akan diberi kode yang terdiri dari 4 angka maka cara memberikan kodenya dapat digambarkan sebagai berikut:
    2. Penggunaan Kode Kelompok untuk Pengawasan
    Apabila informasi akuntansi dipakai untuk mengukur prestasi maka digunakan akuntansi pertanggungjawaban. Yang dimaksud dengan akuntansi pertanggungjawaban adlah suatu sistem akuntansi yang disusun sedemikian rupa sehingga informasi yang dihasilkan menunjukkan tingkat kegiatan yang dikaitkan dengan tanggungjawab orang atau bagian tertentu.
    Pusat pertanggungjawaban ini dapat dibedakan menjadi:
    a. Pusat pertanggungjawaban Biaya
    Yaitu unit organisasi yng dinilai atas dasar biaya yang menjadi tanggungjawabnya, misal bagian produksi.
    b. Pusat pertanggungjawaban Pendapatan
    Yaitu unit organisasi yang dinilai atas dasar pendapatan yang menjadi tanggungjawabnya, misal bagian Pemasaran.
    c. Pusat pertanggungjawaban Laba
    Yaitu unit organisasi yang dinilai atas dasar laba yang menjadi tanggungjawabnya, misalnya anak perusahaan atau devisi perusahaan.
    d. Pusat pertanggungjawaban Investasi
    Yaitu unit orgaisasi yang dinilai atas dasar laba yang menjadi yang menjadi tanggungjawabnya diaktikan denganinvestasinya, misalnya divisi perusahaan.
    Untuk melakukan penilaian prestasi, digunakan anggaran sebagai dasar penilaian. Anggaran ini disusun untuk setiap pusat pertangungjawaban. Agar pencatatan transaksi dapat dikaitkan dengan pusat pertanggungjawaban, disusun kode rekening sedemikain rupa. Biasanya kode rkening ini menggunakan kelompok.
    Berikut contoh kode untuk unit pertanggungjawaban dibuat sbb:
    3. Kode Blok (Blok Code)
    Dalam cara ini juga dilakukan klasifikasi seperti yang dilakukan dalam kode kelompok.
    Kode yang diberikan kepada setiap klasifikasi tidak menggunakan urut-urutan digit seperti dalam kode kelompok, tetapi dengan memberikan satu blok nomor untuk setiap kelompok.
    Jadi disini kode akan diberikan pada setiap kelompok, dimulai angka tertentu dan diakhiri dengan angka tertentu yang merupakan satu blok nomor kode.
    Sebagai contoh penggunaan kode blok, sbb:
    Kelompok Kode Blok
    Aktiva 100 – 199
    Utang 200 – 249
    Modal 250 – 299
    Penghasilan 300 – 399
    Biaya Usaha 400 – 899
    Pendapatan dan Rugi Laba di Luar Usaha 900 – 999

    DAFTAR PUSTAKA
    Adina Aulia.(2012).”Catatan Akuntansi”.[Online]. Tersedia : http://auaudindin.blogspot.sg/2012/03/catatan-akuntansi.html (03 Maret 2016)
    Kompasiana.(2015).”Catatan Akuntansi”.[Online].Tersedia : http://www.kompasiana.com/klinikakuntansi/catatanakuntansi_54f75f73a333112d358b4634 (03 Maret 2016)
    Sistem Akuntansi, Mulyadi, Salemba Empat.[Online]. Tersedia :http://sistem-akuntansi1000.blogspot.sg/2009/10/buku-besar-buku-pembantu-rekening.html (03 Maret 2016)

  3. Hasna Kusuma Dewi says:

    1405200/HASNA KUSUMA DEWI/AKUNTANSI A/SIA

    CATATAN AKUNTANSI

    Menurut Mulyadi (2008: 218) catatan akuntansi yang digunakan adalah :
    1. Jurnal Penjualan
    Jurnal penjualan digunakan untuk mencatat transaksi penjualan baik penjualan tunai maupun kredit.
    2. Kartu Piutang
    Catatan akuntansi ini merupakan buku pembantu yang berisi mutasi piutang perusahaan kepada tiap debiturnya.
    3. Kartu Persediaan
    Catatan akuntansi ini merupakan buku pembantu yang berisi rincian mutasi setiap jenis persediaan.
    4. Kartu Gudang
    Catatan akuntansi ini diselenggarakan oleh fungsi gudang untuk mencatat mutasi dan persediaan fisik barang yang ada di gudang.
    5. Jurnal Umum
    Jurnal ini digunakan untuk mencatat harga pokok produk yang dijual selama periode tertentu.

    1.JURNAL

    Jurnal adalah alat untuk mencatat transaksi-transaksi yang terjadi diperusahaan yang dilakukan secara kronologis (berdasarkan urut waktu terjadinya) dengan menunjukan rekening yang harus didebet dan dikredit beserta jumlah rupiahnya masing-masing.
    Menurut Dr. Erhans dan Junaedi Yusuf (2000:76)
    JURNAL (Journal) adalah catatan akuntansi permanen yang pertama (book of original entry), yang digunakan untuk mencatat transaksi keuangan perusahaan secara kronologis dengan menyebutkan akun yang di Debet maupun yang di Kredit.
    Jurnal yaitu formulir yang digunakan untuk mencatat dan mengelompokkan transaksi secara kronologis. Adapun proses pencatatan dapat digambarkan sebagai berikut:
    Transaksi yang terjadi >> Surat bukti pembukuan >> Jurnal >> Perkiraan >> Neraca saldo
    Fungsi jurnal meliputi :
    1. Fungsi historis, yaitu jurnal merupakan kegiatan mencatat semua transaksi keuangan secara kronologis atau berurutan sesuai dengan tanggal terjadinya.
    2. Fungsi mencatat, yaitu jurnal merupakan pencatatan yang lengkap terperinci, artinya semua transaksi dengan sumbernya harus dicatat tanpa ada yang ketinggalan.
    3. Fungsi analisis, yaitu jurnal menganalisis transaksi untuk menentukan akun yang harus di Debet maaupun yang di Kredit.
    4. Fungsi instruktif, yaitu jurnal merupakan perintah memposting dalam buku besar baik yang di Debet maupun yang di Kredit sesuai hasil analisis dalam jurnal.
    5. Fungsi informatif, yaitu jurnal memberikan keterangan kegiatan perusahaan secara jelas.
    Jurnal sangat penting dalam suatu sistem akuntansi karena adanya beberapa karakteristik berikut,
    a. Jurnal merupakan pencatatan akuntansi permanen pertama yang digunakan untuk mencatat transaksi keuangan perusahaan.
    b. Pencatatan dalam jurnal biasanya lengkap dan terinci, serta menurut urutan tanggal kejadian transaksi.
    c. Jurnal harus dirancang sedemikian rupa karena jurnal merupakan catatan akuntansi yang pertama, sehingga tidak boleh terjadi satu transaksi pun yang tidak dicatat.
    d. Catatan yang dilakukan di dalam jurnal biasanya lengkap dengan penfjelasan, tanggal, dan informasi lain, karena akan digunakan untuk mengusut kembali ke dokumen sumbernya (formulir).
    Jika transaksi perusahaan masih sedikit, jurnal umum sudah cukup memadai. Namun, jika transaksi sudah mulai banyak, maka dibutuhkan tambahan yang biasa disebut jurnal khusus, yang mana diperlukan karena:
    – Untuk mengumpulkan dan menggolongkan transaksi yang sama yang frekuensinya terjadinya tinggi.
    – Untuk mengurangi pekerjaan pembukuan ke dalam buku besar dan untuk menggolongkan transaksi yang dicatat.
    – Untuk memungkinkan pengerjaan pencatatan transaksi ke dalam jurnal dilakukan oleh beberapa orang.
    – Untuk menciptakan pengawasan intern.
    Adapun prinsip-prinsip yang melandasi perancangan jurnal :
    1. Harus tersedia jurnal dalam jumlah yang cukup memadai sehingga memungkinkan perusahaan untuk menggunakan karyawan dalam mencatat dengan segera transaksi keuangan yang terjadi.
    2. Jurnal akan digunakan untuk memisahkan transaksi ke dalam penggolongan pokok tertentu, seperti penerimaan kas, pengeluaran kas, penjualan dan pembelian.
    3. Untuk mengurangi pekerjaan pembukuan yang terinci harus digunakan kolom-kolom khusus dalam jurnal, sehingga memungkinkan pembukuan (posting) jumlah per kolom ke dalam rekening yang bersangkutan di dalam buku besar.
    4. Nama kolom dalam jurnal harus sesuai dengan nama rekening yang bersangkutan dalam buku besar, yang akan menerima jumlah yang akan dibukukan dari jurnal.
    5. Kolom-kolom dalam jurnal digunakan untuk mengumpulkan angka yang akan diringkas dalam rekening yang bersangkutan dalam buku besar.
    6. Sedapat mungkin jurnal harus dirancang sedemikian rupa sehingga pekerjaan menyalin informasi dari dokumen sumbernya dibuat sangat minimum.
    7. Harus ditetapkan hubungan antara dokumen sumber tertentu dengan jurnal sehingga pertanggungjawaban kebenaran informasi dapat ditentukan.

    2. BUKU BESAR

    Menurut Gito Brahmana,
    Buku besar (Ledger) adalah kumpulan akun-akun yang digunakan untuk meringkas transaksi yang telah dicatat dalam jurnal. Buku besar juga dapat diartikan tahapan catatan terakhir dalam akuntansi (book of final entry) yang menampung ringkasan data yang sudah dikelompokan atau diklasifikasikan yang berasal dari jurnal.
    Dalam akuntansi, bagan akun standar adalah daftar nomor akun yang terdiri dari buku besar perusahaan. Bagan rekening perusahaan pada dasarnya merupakan sistem pengarsipan untuk mengelompokkan semua account sebuah perusahaan dan mengelompokkan semua transaksi sesuai dengan account mereka mempengaruhi. Bagan rekening daftar kategori mungkin termasuk aktiva, kewajiban, ekuitas pemilik, pendapatan, harga pokok penjualan, biaya operasi, dan akun lain yang relevan.
    Sebuah bagan akun standar diatur sesuai dengan sistem numerik. Setiap kategori utama akan dimulai dengan nomor tertentu, dan kemudian di sub-kategori dalam kategori besar semua akan dimulai dengan nomor yang sama. Sebagai contoh, jika aktiva tersebut diklasifikasikan dengan nomor yang dimulai dengan 1 digit, maka rekening kas mungkin diberi label 101, piutang mungkin diberi label 102, persediaan mungkin diberi label 103, dan seterusnya. Dan jika account kewajiban diklasifikasikan berdasarkan nomor yang dimulai dengan 2 digit, maka hutang akan diberi label 201, utang jangka pendek mungkin akan diberi label 202, dan seterusnya.
    Tergantung pada ukuran perusahaan, bagan rekening mungkin termasuk rekening beberapa lusin atau mungkin meliputi beberapa ribu rekening. Tergantung pada kecanggihan dari perusahaan, bagan akun dapat kertas-based atau berbasis komputer. Bagan akun berguna untuk menganalisis transaksi masa lalu dan menggunakan data historis untuk memperkirakan tren masa depan.
    Prinsip dasar yang harus dijunjung oleh semua aturan prinsip-prinsip ini meliputi konsistensi, relevansi, reliabilitas, dan komparatif.

    DAFTAR PUSTAKA
    Dina, Aulia. [2012]. Catatan Akuntansi. [Online]. Tersedia: http://auaudindin.blogspot.co.id/2012/03/catatan-akuntansi.html. [26 Febuari 2016]

  4. Wulan Lutfiyanti says:

    1404853/ Wulan Lutfiyanti/ Akuntansi A/ SIA

    CATATAN AKUNTANSI

    Jurnal merupakan catatan akuntansi permanen yang pertama, yang digunaka untuk mencatat transaksi keuangan perusahaan.
    Jurnal harus dirancang sedemikian rupa sehingga tidak ada satupun transaksi yang tidak dicatat; catatan yang dicatat lengkap dengan penjelasan dan informasi lain, agar catatan tersebut mudah diusut kembali ke dokumen sumbernya.

    Pentingnya Jurnal
    a. Jurnal merupakan pencatatan akuntansi permanen pertama yang digunakan untuk mencatat transaksi keuangan perusahaan.
    b. Pencatatan dalam jumal biasanya lengkap dan terinci, serta menurut urutan tanggal kejadian transaksi
    c. Jurnal harus dirancang sedemikian rupa karena jumal merupakan catatan akuntansi yang pertama, sehingga tidak boleh terjadi satu transaksi pun yang tidak dicatat.
    d. Catatan yang dilakukan di dalam jumal biasanya lengkap dengan penjelasan, tanggal dan informasi lain, karena akan digunakan untuk mengusut kembali ke
    dokumen sumbemya (formulir).

    Prinsip Dasar yang Melandasi Perancangan Jurnal
    1. Harus tersedia jumal dalam jumlah yang cukup memadai sehingga memungkinkan perusahaan untuk menggunakan karyawan dalam mencatat dengan segera transaksi keuangan yang terjadi.
    2. Jurnal akan digunakan untuk memisahkan transaksi ke dalam penggolongan pokok tertentu, seperti penerimaan kas, pengeluaran kas, penjualan dan pembelian.
    3. Untuk mengurangi pekerjaan pembukuan yang terinci harus digunakan kolom-kolom khusus dalam jurnal, sehingga memungkinkan pembukuan (posting) jumlah per kolom ke dalam rekening yang bersangkutan di dalam buku besar.
    4. Nama kolom dalam jumal harus sesuai dengan nama rekening yang bersangkutan dalam buku besar, yang akan menerima jumlah yang akan dibukukan dari jumal.
    5. Kolom-kolom dalam jumal digunakan untuk mengumpulkan angka yang akan diringkas dalam rekening yang bersangkutan dalam buku besar.
    6. Sedapat mungkin jumal harus dirancang sedemikian rupa sehingga pekerjaan menyalin informasi dari dokumen sumbemya dibuat sangat Harus ditetapkan hubungan antara dokumen sumber tertentu dengan jumal sehingga pertanggungjawaban kebenaran informasi dapat ditentukan.

    JURNAL UMUM
    Jurnal ini digunakan untuk menampung transaksi penjualan, pembelian, penerimaan dan pengeluaran kas, depresiasi aktiva tetap dan transaksi lainnya.
    Karena dalam perusahaan kecil volume transaksinya masih sedikit, jurnal umum seperti tampak pada gambar diatas.
    Kolom-kolom dalam jurnal umum tersebut diisi data berikut ini:
    a. Kolom Tanggal.
    Kolom ini diisi dengan tanggal terjadinya transaksi, yang diisi secara berurutan sesuai dengan kronologi terjadinya transaksi.
    b. Kolom Keterangan
    Kolom ini diisi dengan keterangan lengkap mengenai transaksi yang terjadi, seperti nama rekening yang didebit dan dikredit, serta penjelasan ringkas tentang transaksi yang bersangkutan.
    c. Kolom Nomor Bukti
    Kolom ini digunakan untuk mencatat nomor formulir (dokumen sumber) yang dipakai sebagai dasar pencatatan data dalam jurnla tersebut.
    d. Kolom Nomor Rekening
    Diisi dengan nomor rekening yang didebit dan nomor rekening yang dikredit dengan adanya transaksi.
    e. Kode Debit dan Kredit
    Kode ini diisi dengan jumlah rupiah transaksi. Jumlah-jumlah rupiah adlam kolom ini diringkas (dijumlahkan) menurut nomor rekening yang tercantum dalam kolom nomor rekening.

    JURNAL KHUSUS
    Jika suatu perusahaan bertambah besar dan jenis transaksi menjadi lebih banyak, jurnal umum tersebut menjadi tidak mampu lagi menampung berbagai transaksi yang timbul, yang frekuensi terjadinya transaksi semakin tinggi.
    Mengapa jurnal umum perlu dipecah:
    a. Untuk mengumpulkan dan menggolongkan transaksi yang sama yang frekuensi
    terjadinya tinggi
    b. Untuk mengurangi pekerjaanpembukuan ke dalam buku besar dan untuk
    menggolongkan transaksi yang dicari.
    c. Untuk memungkinkan pengerjaan pencatatan transaksi ke dalam jurnal dilakukan
    oleh beberapa orang.
    d. Untuk menciptakan pengendalian intern.

    JENIS JURNAL KHUSUS
    Jenis jurnal yang biasanya terdapat dalam perusahaan yang relatif besar adalah sbb:
    1. Jurnal khusus Penjualan
    Digunakan untuk mencatat transaksi penjualan, baik penjualan kredit maupun penjualan tunai.
    Dari jurnal penjualan ini, manajemen akan dapat memperoleh informasi mengenai semua jenis transaksi penjualan selama periode tertentu, urut secara kronologi.
    2. Jurnal khusus Pembelian
    Digunakan untuk mencatat transaksi pembelian kredit.
    Transaksi pembelian tunai dicatat dalam jurnal pengeluaran kas.
    3. Jurnal khusus Penerimaan Kas
    Digunakan untuk mencatat transaksi penerimaan kas.
    Sumber pokok penerimaan kas perusahaan umumnya dari penjualan tunai dan penerimaan piutang.
    Jika frekuensi transaksi kas masih rendah, jurnal penerimaan kas ini digabungkan dengan jurnal pengeluaran kas dalam satujurnal yang disebut jurnal kas.
    4. Jurnal khusus Pengeluaran Kas
    Jurnal pengeluaran kas digunakan untuk mencatat transaksi pengeluaran kas.
    5. Jurnal khusus Umum
    Digunakan untuk mencatat transaksi selain yang dicatat dalam jurnal khusus.
    Pada umumnya jurnal umum berbentuk jurnal dua kolom (artinya kolom rupiah hanya terdiri dari 2 kolom) yaitu; kolom debit dan kolom kredit.

    LANGKAH PERANCANGAN JURNAL
    Berikut ini adalah langkah-langkah yang biasa ditempuh oleh ahli sistem dalam merancang jurnal:
    1. Studi terhadap Karakteristik Transaksi Perusahaan
    Percangan jurnal dimulai dari studi terhadap karakteristik transaksi yang dilaksanakan oleh perusahaan.
    2. Pembuatan Jurnal Standar
    Setelah transaksi yang berfrekuensi tinggi diidentifikasi, langkahselanjutnay adalah memperlajari ciri khas transaksi tersebut untuk dapat menentukan rekening-rekening buku besar yang terkait dalam pencatan transaksi tersebut. Atas dasar ini dibuat jurnal standar untuk mencatat transaksi-transaksi yang berfrekuensi tinggi.
    3. Percanangan Jurnal
    Jurnal standar kemudian dipakai sebagai dasar untuk menentukan kolom-kolom yang harus dicantumkan dalam jurnal khusus.

    BUKU BESAR
    Buku besar / Ledger adalah kumpulan akun-akun yang digunakan untuk meringkas transaksi yang telah dicatat dalam jurnal. Buku besar juga dapat diartikan tahapan catatan terakhir dalam akuntansi book of final entry yang menampung ringkasan data yang sudah dikelompokan atau diklasifikasikanyang berasal dari jurnal.
    Menurut Gito Brahmana,
    Buku besar (Ledger) adalah kumpulan akun-akun yang digunakan untuk meringkas transaksi yang telah dicatat dalam jurnal. Buku besar juga dapat diartikan tahapan catatan terakhir dalam akuntansi (book of final entry) yang menampung ringkasan data yang sudah dikelompokan atau diklasifikasikan yang berasal dari jurnal.

    Dalam akuntansi, bagan akun standar adalah daftar nomor akun yang terdiri dari buku besar perusahaan. Bagan rekening perusahaan pada dasarnya merupakan sistem pengarsipan untuk mengelompokkan semua account sebuah perusahaan dan mengelompokkan semua transaksi sesuai dengan account mereka mempengaruhi. Bagan rekening daftar kategori mungkin termasuk aktiva, kewajiban, ekuitas pemilik, pendapatan, harga pokok penjualan, biaya operasi, dan akun lain yang relevan.
    Sebuah bagan akun standar diatur sesuai dengan sistem numerik. Setiap kategori utama akan dimulai dengan nomor tertentu, dan kemudian di sub-kategori dalam kategori besar semua akan dimulai dengan nomor yang sama. Sebagai contoh, jika aktiva tersebut diklasifikasikan dengan nomor yang dimulai dengan 1 digit, maka rekening kas mungkin diberi label 101, piutang mungkin diberi label 102, persediaan mungkin diberi label 103, dan seterusnya. Dan jika account kewajiban diklasifikasikan berdasarkan nomor yang dimulai dengan 2 digit, maka hutang akan diberi label 201, utang jangka pendek mungkin akan diberi label 202, dan seterusnya.

    Tergantung pada ukuran perusahaan, bagan rekening mungkin termasuk rekening beberapa lusin atau mungkin meliputi beberapa ribu rekening. Tergantung pada kecanggihan dari perusahaan, bagan akun dapat kertas-based atau berbasis komputer. Bagan akun berguna untuk menganalisis transaksi masa lalu dan menggunakan data historis untuk memperkirakan tren masa depan.

    Prinsip dasar yang harus dijunjung oleh semua aturan prinsip-prinsip ini meliputi konsistensi, relevansi, reliabilitas, dan komparatif.


    DAFTAR PUSTAKA
    Akuntansi, Sistem. Jurnal. [online]. Tersedia: http://sistem-akuntansi1000.blogspot.co.id/2009/10/j-u-r-n-l.html. [03 Maret 2016].

    Jurnal Akuntansi. Jurnal pada Akuntansi-Sistem Informasi Akuntansi. [online]. Tersedia: http://jurnal-akuntansi.blogspot.co.id/2012/05/jurnal-pada-akuntansi-sistem-informasi.html. [03 Maret 2016].

    Dina, Aulia. [2012]. Catatan Akuntansi. [Online]. Tersedia: http://auaudindin.blogspot.co.id/2012/03/catatan-akuntansi.html. [26 Febuari 2016]

  5. Cindi Ajeng Pratiwi says:

    1403559/ Cindi Ajeng Pratiwi/ Akuntansi A/ SIA
    Jurnal
    Jurnal adalah suatu buku yang tempat mencatat semua transaksi yang terjadi dalam perusahaan secara sistematis dan kronologis, pencatatan dilakukan berdasarkan bukti-bukti dengan menyebutkan rekening yangdidebet dan dikredit. Prosesnya disebut menjurnal (journalizing).
    Buku Besar
    Buku besar adalah himpunan rekening-rekening yang saling berhubungan yang menggambarkan pengaruh transaksi terhadap perubahan harta, utang dan modal. Pemindahbukuan semua pos-pos jurnal ke buku besar disebut posting. Nama akun yang dipakai pada ayat-ayat jurnal harus sama dengan nama akun di buku besar.
    Pentingnya Jurnal
    a. Jurnal merupakan pencatatan akuntansi permanen pertama yang digunakan untuk mencatat transaksi keuangan perusahaan.
    b. Pencatatan dalam jumal biasanya lengkap dan terinci, serta menurut urutan tanggal kejadian transaksi
    c. Jurnal harus dirancang sedemikian rupa karena jumal merupakan catatan akuntansi yang pertama, sehingga tidak boleh terjadi satu transaksi pun yang tidak dicatat.
    d. Catatan yang dilakukan di dalam jumal biasanya lengkap dengan penjelasan, tanggal dan informasi lain, karena akan digunakan untuk mengusut kembali ke dokumen sumbemya (formulir).

    Prinsip Perancangan Jurnal
    1. Harus tersedia jumal dalam jumlah yang cukup memadai sehingga memungkinkan perusahaan untuk menggunakan karyawan dalam mencatat dengan segera transaksi keuangan yang terjadi.
    2. Jurnal akan digunakan untuk memisahkan transaksi ke dalam penggolongan pokok tertentu, seperti penerimaan kas, pengeluaran kas, penjualan dan pembelian.
    3. Untuk mengurangi pekerjaan pembukuan yang terinci harus digunakan kolom-kolom khusus dalam jurnal, sehingga memungkinkan pembukuan (posting) jumlah per kolom ke dalam rekening yang bersangkutan di dalam buku besar.
    4. Nama kolom dalam jumal harus sesuai dengan nama rekening yang bersangkutan dalam buku besar, yang akan menerima jumlah yang akan dibukukan dari jumal.
    5. Kolom-kolom dalam jumal digunakan untuk mengumpulkan angka yang akan diringkas dalam rekening yang bersangkutan dalam buku besar.
    6. Sedapat mungkin jumal harus dirancang sedemikian rupa sehingga pekerjaan menyalin informasi dari dokumen sumbemya dibuat sangat Harus ditetapkan hubungan antara dokumen sumber tertentu dengan jumal sehingga pertanggungjawaban kebenaran informasi dapat ditentukan.

    1. KODE REKENING
    Pemberian kode untuk klasifikasi rekening diperlukan karena dapat memudahkan untuk mencari rekening-rekening yang diinginkan.
    Kode rekening harus disusun secara konsisten. Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk dalam memberikan kode yaitu dengan angka, huruf ataupun kombinasi keduanya. Tidak memandang cara mana yang digunakan, kode yang diberikan harus dapat memenuhi syarat-syarat sbb:
    a. Memungkinkan adannya perluasan rekening tanpa harus mengadakan perubahan kode.
    b. Harus mudah diingat
    c. Memudahkan bagi pihak yang menggunakan.
    BUKU BESAR
    Pemindahan (posting) jurnal ke buku besar – Setelah transaksi dicatat dalam jurnal, tiba saatnya dilakukan posting ke buku besar. Jadi, apakah posting itu? Posting atau pemindahbukuan adalah memindahkan transaksi yang telah dicatat dalam jurnal ke dalam setiap akun buku besar yang sesuai. Buku besar ini merupakan kumpulan akun-akun yang saling berhubungan dan merupakan satu kesatuan. Karena itu, buku besar hampir sama dengan akun. Perbedaannya hanyalah pada penyebutannya.
    Ingatkah Anda, apakah akun itu?

    Cara memposting ke buku besar melalui tiga tahap, yaitu sebagai berikut.
    1. mencatat tanggal transaksi dan jumlah yang akan didebit atau dikredit ke dalam akun yang sesuai;
    2. mengisi kolom “Referensi: dalam akun nomor halaman jurnal;
    3. mengisi kolom “Referensi” dalam jurnal dengan akun yang bersangkutan.
    Pada buku besar, bentuk-bentuk akun yang biasa digunakan, yaitu akun bentuk T, akun 2 kolom, akun 3 kolom, dan akun 4 kolom. Penyebutan istilah “dua kolom” mengacu pada jumlah kolom yang digunakan untuk mencatat nilai uang. Berikut disajikan bentuk-bentuk buku besar tersebut.

    Daftar Pustaka
    Joah, Imania. “JURNAL, BUKU BESAR, NERACA SALDO, JURNAL PENYESUAIAN. KERTAS KERJA”. [Online]. Tersedia: http://imaniajoah.blogspot.co.id/2013/11/jurnal-buku-besar.html [03 Maret 2016]
    Akuntansi, Jurnal. “Jurnal Pada Akuntansi”. [Online]. Tersedia: http://jurnal-akuntansi.blogspot.co.id/2012/05/jurnal-pada-akuntansi-sistem-informasi.html [03 Maret 2016]
    Respati, Dian. “Posting Jurnal ke Buku Besar”. [online]. Tersedia: http://akuntansis.blogspot.co.id/2014/07/posting-jurnal-ke-buku-besar.html. [03 Maret 2016].

  6. Krisna Rosdiana says:

    1400434/krisna rosdiana/2014 akuntansi A/SIA

    CATATAN AKUNTANSI

    Menurut Mulyadi (2008: 218) catatan akuntansi yang digunakan adalah :
    1. Jurnal Penjualan
    Jurnal penjualan digunakan untuk mencatat transaksi penjualan baik penjualan tunai maupun kredit.
    2. Kartu Piutang
    Catatan akuntansi ini merupakan buku pembantu yang berisi mutasi piutang perusahaan kepada tiap debiturnya.
    3. Kartu Persediaan
    Catatan akuntansi ini merupakan buku pembantu yang berisi rincian mutasi setiap jenis persediaan.
    4. Kartu Gudang
    Catatan akuntansi ini diselenggarakan oleh fungsi gudang untuk mencatat mutasi dan persediaan fisik barang yang ada di gudang.
    5. Jurnal Umum
    Jurnal ini digunakan untuk mencatat harga pokok produk yang dijual selama periode tertentu.

    #JURNAL
    Jurnal adalah alat untuk mencatat transaksi-transaksi yang terjadi diperusahaan yang dilakukan secara kronologis (berdasarkan urut waktu terjadinya) dengan menunjukan rekening yang harus didebet dan dikredit beserta jumlah rupiahnya masing-masing.
    Menurut Dr. Erhans dan Junaedi Yusuf (2000:76)
    Jurnal yaitu formulir yang digunakan untuk mencatat dan mengelompokkan transaksi secara kronologis. Adapun proses pencatatan dapat digambarkan sebagai berikut:
    Transaksi yang terjadi >> Surat bukti pembukuan >> Jurnal >> Perkiraan >> Neraca saldo
    JURNAL (Journal) adalah catatan akuntansi permanen yang pertama (book of original entry), yang digunakan untuk mencatat transaksi keuangan perusahaan secara kronologis dengan menyebutkan akun yang di Debet maupun yang di Kredit.
    Fungsi jurnal meliputi :
    1. Fungsi historis, yaitu jurnal merupakan kegiatan mencatat semua transaksi keuangan secara kronologis atau berurutan sesuai dengan tanggal terjadinya.
    2. Fungsi mencatat, yaitu jurnal merupakan pencatatan yang lengkap terperinci, artinya semua transaksi dengan sumbernya harus dicatat tanpa ada yang ketinggalan.
    3. Fungsi analisis, yaitu jurnal menganalisis transaksi untuk menentukan akun yang harus di Debet maaupun yang di Kredit.
    4. Fungsi instruktif, yaitu jurnal merupakan perintah memposting dalam buku besar baik yang di Debet maupun yang di Kredit sesuai hasil analisis dalam jurnal.
    5. Fungsi informatif, yaitu jurnal memberikan keterangan kegiatan perusahaan secara jelas.

    Jurnal sangat penting dalam suatu sistem akuntansi karena adanya beberapa karakteristik berikut,
    a. Jurnal merupakan pencatatan akuntansi permanen pertama yang digunakan untuk mencatat transaksi keuangan perusahaan.
    b. Pencatatan dalam jurnal biasanya lengkap dan terinci, serta menurut urutan tanggal kejadian transaksi.
    c. Jurnal harus dirancang sedemikian rupa karena jurnal merupakan catatan akuntansi yang pertama, sehingga tidak boleh terjadi satu transaksi pun yang tidak dicatat.
    d. Catatan yang dilakukan di dalam jurnal biasanya lengkap dengan penfjelasan, tanggal, dan informasi lain, karena akan digunakan untuk mengusut kembali ke dokumen sumbernya (formulir).
    Jika transaksi perusahaan masih sedikit, jurnal umum sudah cukup memadai. Namun, jika transaksi sudah mulai banyak, maka dibutuhkan tambahan yang biasa disebut jurnal khusus, yang mana diperlukan karena:
    – Untuk mengumpulkan dan menggolongkan transaksi yang sama yang frekuensinya terjadinya tinggi.
    – Untuk mengurangi pekerjaan pembukuan ke dalam buku besar dan untuk menggolongkan transaksi yang dicatat.
    – Untuk memungkinkan pengerjaan pencatatan transaksi ke dalam jurnal dilakukan oleh beberapa orang.
    – Untuk menciptakan pengawasan intern.
    Adapun prinsip-prinsip yang melandasi perancangan jurnal :
    1. Harus tersedia jurnal dalam jumlah yang cukup memadai sehingga memungkinkan perusahaan untuk menggunakan karyawan dalam mencatat dengan segera transaksi keuangan yang terjadi.
    2. Jurnal akan digunakan untuk memisahkan transaksi ke dalam penggolongan pokok tertentu, seperti penerimaan kas, pengeluaran kas, penjualan dan pembelian.
    3. Untuk mengurangi pekerjaan pembukuan yang terinci harus digunakan kolom-kolom khusus dalam jurnal, sehingga memungkinkan pembukuan (posting) jumlah per kolom ke dalam rekening yang bersangkutan di dalam buku besar.
    4. Nama kolom dalam jurnal harus sesuai dengan nama rekening yang bersangkutan dalam buku besar, yang akan menerima jumlah yang akan dibukukan dari jurnal.
    5. Kolom-kolom dalam jurnal digunakan untuk mengumpulkan angka yang akan diringkas dalam rekening yang bersangkutan dalam buku besar.
    6. Sedapat mungkin jurnal harus dirancang sedemikian rupa sehingga pekerjaan menyalin informasi dari dokumen sumbernya dibuat sangat minimum.
    7. Harus ditetapkan hubungan antara dokumen sumber tertentu dengan jurnal sehingga pertanggungjawaban kebenaran informasi dapat ditentukan.

    # BUKU BESAR
    Menurut Gito Brahmana,
    Buku besar (Ledger) adalah kumpulan akun-akun yang digunakan untuk meringkas transaksi yang telah dicatat dalam jurnal. Buku besar juga dapat diartikan tahapan catatan terakhir dalam akuntansi (book of final entry) yang menampung ringkasan data yang sudah dikelompokan atau diklasifikasikan yang berasal dari jurnal.
    Menurut SunFish ERP,
    Buku Besar adalah pusat dari pencatatan perusahaan dari semua transaksi yang muncul. Terbentuk melalui penempatan transaksi dari jurnal umum yang merupakan ringkasan dari semua jurnal pembantu dan penelusuran history.

    Dalam akuntansi, bagan akun standar adalah daftar nomor akun yang terdiri dari buku besar perusahaan. Bagan rekening perusahaan pada dasarnya merupakan sistem pengarsipan untuk mengelompokkan semua account sebuah perusahaan dan mengelompokkan semua transaksi sesuai dengan account mereka mempengaruhi. Bagan rekening daftar kategori mungkin termasuk aktiva, kewajiban, ekuitas pemilik, pendapatan, harga pokok penjualan, biaya operasi, dan akun lain yang relevan.
    Sebuah bagan akun standar diatur sesuai dengan sistem numerik. Setiap kategori utama akan dimulai dengan nomor tertentu, dan kemudian di sub-kategori dalam kategori besar semua akan dimulai dengan nomor yang sama. Sebagai contoh, jika aktiva tersebut diklasifikasikan dengan nomor yang dimulai dengan 1 digit, maka rekening kas mungkin diberi label 101, piutang mungkin diberi label 102, persediaan mungkin diberi label 103, dan seterusnya. Dan jika account kewajiban diklasifikasikan berdasarkan nomor yang dimulai dengan 2 digit, maka hutang akan diberi label 201, utang jangka pendek mungkin akan diberi label 202, dan seterusnya.

    Tergantung pada ukuran perusahaan, bagan rekening mungkin termasuk rekening beberapa lusin atau mungkin meliputi beberapa ribu rekening. Tergantung pada kecanggihan dari perusahaan, bagan akun dapat kertas-based atau berbasis komputer. Bagan akun berguna untuk menganalisis transaksi masa lalu dan menggunakan data historis untuk memperkirakan tren masa depan.

    Prinsip dasar yang harus dijunjung oleh semua aturan prinsip-prinsip ini meliputi konsistensi, relevansi, reliabilitas, dan komparatif.

    http://id.shvoong.com/writing-and-speaking/presenting/2135436-catatan-akuntansi-yang-digunakan/
    Yusuf, Junaedi & Dr. Erhans A. 2000. Akuntansi Berdasarkan Prinsip Akuntansi Indonesia. Jakarta: PT. Ercontara Rajawali
    S. Purnomo, Budi. 2006. Accounting Principles I. Sumedang: Pusat Pelayanan dan Pengembangan Ekonomi (P3E)

    SUMBER :

    http://milamashuri.wordpress.com/jurnal-umum/
    http://blog.re.or.id/jurnal.htm
    http://www.elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/soal…1/bagian3_jurnal.pdf
    http://milamashuri.wordpress.com/buku-besar/
    http://www.dataon.com/library/files/ERP-GL_ID.pdf
    http://goongbusiness.com/in/article-bebas/169-membuat-bagan-akun-chart-of-account.html

  7. Putri Humaira says:

    1405794 / Putri Humaira / 2014-A / SIA

    Catatan akuntansi berupa kumpulan rekening-rekening dalam Buku Besar selanjutnya secara periodik disusun ke dalam Laporan Keuangan.
    Catatan Akuntansi terdiri dari:

    1. Buku Jurnal yaitu merupakan catatan akuntansi yang dilaksanakan oleh Fungsi Akuntansi sebagai media untuk (1) mencatat transaksi keuangan penerimaan kas berdasarkan dokumen transaksi yang sah, dan (2) menggolongkan transaksi keuangan ke dalam rekening-rekening (akun).

    Jurnal adalah semua transaksi keuangan suatu badan usaha atau organisasi yang dicatat secara kronologis dan bertujuan untuk pendataan, termasuk di dalamnya jumlah transaksi, nama-nama transaksi baik memengaruhi atau dipengaruhi, dan waktu transaksi berjalan . Proses pencatatan ini disebut penjurnalan.
    Jurnal dikenal juga sebagai buku pemasukan utama books of original entry karena menjadi tempat terjadinya pencatatan transaksi pertama atau penyesuaian pemasukan adjusting entries

    Fungsi jurnal meliputi :
    • Fungsi historis, yaitu jurnal merupakan kegiatan mencatat semua transaksi keuangan secara kronologis atau berurutan sesuai dengan tanggal terjadinya.
    • Fungsi mencatat, yaitu jurnal merupakan pencatatan yang lengkap terperinci, artinya semua transaksi dengan sumbernya harus dicatat tanpa ada yang ketinggalan.
    • Fungsi analisis, yaitu jurnal menganalisis transaksi untuk menentukan akun yang harus di Debet maaupun yang di Kredit.
    • Fungsi instruktif, yaitu jurnal merupakan perintah memposting dalam buku besar baik yang di Debet maupun yang di Kredit sesuai hasil analisis dalam jurnal.
    • Fungsi informatif, yaitu jurnal memberikan keterangan kegiatan perusahaan secara jelas.

    Jurnal sangat penting dalam suatu sistem akuntansi karena adanya beberapa karakteristik berikut,
    • Jurnal merupakan pencatatan akuntansi permanen pertama yang digunakan untuk mencatat transaksi keuangan perusahaan.
    • Pencatatan dalam jurnal biasanya lengkap dan terinci, serta menurut urutan tanggal kejadian transaksi.
    • Jurnal harus dirancang sedemikian rupa karena jurnal merupakan catatan akuntansi yang pertama, sehingga tidak boleh terjadi satu transaksi pun yang tidak dicatat.
    • Catatan yang dilakukan di dalam jurnal biasanya lengkap dengan penfjelasan, tanggal, dan informasi lain, karena akan digunakan untuk mengusut kembali ke dokumen sumbernya (formulir).
    • Jika transaksi perusahaan masih sedikit, jurnal umum sudah cukup memadai.

    Namun, jika transaksi sudah mulai banyak, maka dibutuhkan tambahan yang biasa disebut jurnal khusus, yang mana diperlukan karena:
     Untuk mengumpulkan dan menggolongkan transaksi yang sama yang frekuensinya terjadinya tinggi.
     Untuk mengurangi pekerjaan pembukuan ke dalam buku besar dan untuk menggolongkan transaksi yang dicatat.
     Untuk memungkinkan pengerjaan pencatatan transaksi ke dalam jurnal dilakukan oleh beberapa orang.
     Untuk menciptakan pengawasan intern.

    Prinsip-prinsip yang melandasi perancangan jurnal :
    • Harus tersedia jurnal dalam jumlah yang cukup memadai sehingga memungkinkan perusahaan untuk menggunakan karyawan dalam mencatat dengan segera transaksi keuangan yang terjadi.
    • Jurnal akan digunakan untuk memisahkan transaksi ke dalam penggolongan pokok tertentu, seperti penerimaan kas, pengeluaran kas, penjualan dan pembelian.
    • Untuk mengurangi pekerjaan pembukuan yang terinci harus digunakan kolom-kolom khusus dalam jurnal, sehingga memungkinkan pembukuan (posting) jumlah per kolom ke dalam rekening yang bersangkutan di dalam buku besar.
    • Nama kolom dalam jurnal harus sesuai dengan nama rekening yang bersangkutan dalam buku besar, yang akan menerima jumlah yang akan dibukukan dari jurnal.
    • Kolom-kolom dalam jurnal digunakan untuk mengumpulkan angka yang akan diringkas dalam rekening yang bersangkutan dalam buku besar.
    • Sedapat mungkin jurnal harus dirancang sedemikian rupa sehingga pekerjaan menyalin informasi dari dokumen sumbernya dibuat sangat minimum.
    • Harus ditetapkan hubungan antara dokumen sumber tertentu dengan jurnal sehingga pertanggungjawaban kebenaran informasi dapat ditentukan.

    Transaksi keuangan yang telah dicatat dan digolongkan ke dalam Buku Jurnal, selanjutnya secara periodik diposting ke dalam Buku Besar.

    2. Buku Besar yaitu merupakan catatan akuntansi yang dilaksanakan oleh Fungsi Akuntansi sebagai media untuk (1) meringkas catatan transaksi keuangan yang telah digolongkan ke rekening-rekening (akun), (2) memberikan informasi saldo rekening-rekening dimaksud secara akumulatif.
    Buku besar (Ledger) adalah kumpulan akun-akun yang digunakan untuk meringkas transaksi yang telah dicatat dalam jurnal. Buku besar juga dapat diartikan tahapan catatan terakhir dalam akuntansi (book of final entry) yang menampung ringkasan data yang sudah dikelompokan atau diklasifikasikan yang berasal dari jurnal.

    Rekening adalah judul suatu catatan akuntansi yang umumya berbentuk T, yang dibagi dua bagian, sebelah kiri disebut debit dan sebelan kanan disebut kredit, sebagai alat untuk mengklasifikasikan dan mencatat transaksi berdasar prinsip tata buku berpasangan (double entry bookeeping).
    Ada berbagai variasi bentuk formulir rekening buku besar:
    • Rekening dengan debit lebar (wide debit ledger)
    • Rekening biasa (regular ledger)
    • Rekening berkolom saldo di tengah (center balance ledger)
    • Rekening berkolom saldo (balance ledger)
    • Rekening ganda berkolom saldo (doubel ledger with balance ledger)
    • Rekening dengan saldo lama dan saldo baru (old and new balance ledger)

    Kode memudahkan proses pengolahan data karena dengan kode, data akan lebih mudah diidentifikasi.
    Contoh: kode untuk karyawan laki-laki diberi kode L, karyawan wanita kode W.
    Dalam proses akuntansi kode yang digunakan adalah: angka, huruf atau kombinasi keduanya. Dalam komputer untuk memproses data ada istilah kode: alfabetik (menggunakan huruf), numerik (menggunakan angka), alfanumerik (menggunakan kombinasi huruf dan angka).
    Syarat kode yang baik
    Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan adalah:
    • Kode yang disusun perlu disesuaikan dengan metode proses data.
    • Setiap kode harus mewakili hanya satu item sehingga tidak membingungkan
    • Kode ayng disusun harus memudahkan pemakai untuk mengingatnya
    • Kode yang disusun harus fleksibel, dalam arti memungkinkan dilakukan perluasan tanpa perubahan menyeluruh.
    • Setiap kode yang disusun harus fleksibel, dalam arti memungkinkan dilakukan perluasan tanpa perubahan menyeluruh.
    • Setiap kode harus menggunakan jumlah angka atau huruf yang sama
    • Kode yang panjang perlu dipotong-potong (chunking) untuk memudahkan mengingat, Misalnya: kode 60662582549 dapat dibuat 606-258-259.
    • Dalam kode yang panjang perlu diberi kode yang merupakan check digit, yaitu untuk mengecek kebenaran kode.

    Daftar Pustaka
    Sistem akuntansi. Buku Besar , Rekening , Buku Pembantu. [online] tersedia :
    http://sistem akuntansi1000.blogspot.co.id/2009/10/buku-besar-buku-pembantu-rekening.html [3 Maret 2016]
    Anisoerya. Catatan Akuntansi . [online]. Tersedia : http://anisoerya.blogspot.co.id/2012/12/catatan-akuntansi.html . [ 3 Maret 2016]
    Auaudindin. Catatan Akuntansi. [online]. Tersedia : http://auaudindin.blogspot.co.id/2012/03/catatan-akuntansi.html . [3 Maret 2016]
    Wikipedia. Jurnal (Akuntansi). [online]. Tersedia : https://id.wikipedia.org/wiki/Jurnal_%28akuntansi%29 . [3 Maret 2016]

  8. Dinie Setyawati says:

    1403217/Dinie Setyawati/2014 Akuntansi A/SIA

    Catatan Akuntansi terdiri dari:
    1. Jurnal
    2. Buku besar

    JURNAL
    Jurnal merupakan catatan akuntansi permanen yang pertama, yang digunakan untuk mencatat transaksi keuangan perusahaan. Dibanding dengan catataan akuntansi yang lain, pencatatan di dalam jurnal ini biasanya lebih lengkap dan lebih terinci, serta menurut urutan tanggal kejadian transaksi. Jurnal harus dirancang sedemikian rupa sehingga tidak akan terjadi satu transaksi satu transaksi pun yang tidak dicatat, catatan yang dilakukan di dalamnya lengkap dengan penjelasan, tanggal dan informasi lain, agar catatan tersebut mudah diusut kembali ke dokumen sumbernya.
    Jika jenis transaksi perusahaan masih sedikit, jurnal umum dengan dua kolom, debit dan kredit, sudah cukup memadai sebagai catatan akuntansi pertama.
    Jika usaha perusahaan bertambah besar dan jenis transaksi menjadi lebih banyak, jurnal umum tersebut menjadi tidak mampu lagi menampung berbagai transaksi yang timbul, yang frekuensi terjadinya semakin tinggi. Dalam hal ini mulai diperlukan jurnal khusus.

    Ada beberapa alasan mengapa jurnal umum perlu dipecah:
    1. Untuk mengumpulkan dan menggolongkan transaksi yang sama yang frekuensi terjadinya tinggi.
    2. Untuk mengurangi pekerjaan pembukuan ke dalam buku besar dan untuk menggolongkan transaksi yang dicatat.
    3. Untuk memungkinkan pekerjaan pencatatan transaksi ke dalam jurnal dilakukan oleh beberapa orang.
    4. Untuk menciptakan pengendalian intern.

    Prinsip prinsip dasar yang melandasi pembuatan rancangan jurnal adalah sebagai berikut:
    1. Harus tersedia jurnal dalam jumlah yang memadai sehingga memungkinkan perusahaan untuk menggunakan karyawan dalam mencatat dengan segera transaksi keuangan yang terjadi.
    2. Jurnal akan digunakan untuk memisahkan transaksi ke dalam penggolongan pokok tertentu, seperti penerimaan kas, pengeluaran kas, penjualan dan pembelian.
    3. Untuk mengurangi pekerjaan pembukuan yang terinci, harus digunakan kolom-kolom khusus dalam jurnal, sehingga memungkinkan pembukuan (posting) jumlah per kolom ke dalam rekening yang bersangkutan di dalam buku besar.
    4. Nama kolom dalam jumlah harus sesuai dengan nama rekening yang bersangkutan dalam buku besar, yang akan menerima jumlah yang akan dibukukan dari jurnal.
    5. Kolom-kolom dalam jurnal digunakan untuk mengumpulkan angka yang akan diringkas dalam rekening yang bersangkutan dalam buku besar.
    6. Sedapat mungkin jurnal harus dirancang sedemikian rupa sehingga pekerjaan menyalin informasi dari dokumen sumbernya dibuat sangat minimum.
    7. Harus diterapkan hubungan antara dokumen sumber tertentu dengan jurnal sehingga pertanggungjawaban kebenaran informasi dapat ditentukan.

    Jenis jurnal yang biasanya terdapat dalam perusahaan yang relatif besar adalah sebagai berikut:
    1. Jurnal penjualan
    2. Jurnal pembelian
    3. Jurnal penerimaan kas
    4. Jurnal pengeluaran kas
    5. Jurnal umum

    BUKU BESAR
    Buku besar (general ledger) merupakan kumpulan rekening-rekening yang digunakan untuk menyortasi dan meringkas informasi yag telah dicatat dalam jurnal.
    Buku pembantu (subsidiary ledgers) adalah suatu cabang buku besar yang berisi rincian rekening tertentu yang ada dalam buku besar. Dengan demikian baik buku besar maupun buku pembantu terdiri dari rekening.
    Rekening adalah judul suatu catatan akuntansi yang umumnya berbentuk T, yang dibagi dua bagian, sebelah kiri disebut debit dan sebelah kanan disebut kredit, sebagai alat untuk mengklasifikasikan dan mencatat transaksi berdasar prinsip tata buku berpasangan (double entry bookkeeping).
    Rekening yang ada dalam buku besar, yang dirinci dalam buku pembantu disebut dengan rekening kontrol (controlling account), sedangkan rekening yang ada dalam buku pembantu, yang merupakan rincian rekening tertentu dalam buku besar disebut dengan rekening pembantu (subsidiary account).

    KODE REKENING
    Dalam sistem pengolahan data akuntansi, kode memenuhi berbagai tujuan berikut ini:
    1. Mengidentifikasi data akuntansi secara unik.
    2. Meringkas data.
    3. Mengklasifikasi rekening atau transaksi.
    4. Menyampaikan makna tertentu.

    Ada 5 metode pemberian kode rekening:
    1. Kode Angka atau Alfabet Urut (numerical-or alphabetic-sequence code)
    2. Kode Angka Blok (block numerical code)
    3. Kode Angka Kelompok (group numerical code)
    4. Kode Angka Desimal (decimal code)
    5. Kode Angka Urut Didahului dengan Huruf (numerical sequence preceded by an alphabetic reference)

    DAFTAR PUSTAKA
    Mulyadi. (2010). Sistem Akuntansi. Jakarta: Salemba Empat.

  9. Dini Yuliani says:

    1400057 / Dini Yuliani / 2014-A / SIA-1

    Catatan Akuntansi (accounting records) perusahaan terdiri atas dokumen sumber, jurnal, dan buku besar. Berbagai catatan ini menangkap esensi ekonomi dari berbagai transaksi dan menyediakan jejak audit berbagai peristiwa ekonomi. Jejak audit memungkinkan auditor menelusuri transaksi apa saja melalui semua tahapan pemrossesannya, dari awal peristiwa hingga laporan keuangan. Perusahaan harus memlihara jejak audit untuk dua alasan. Pertama, informasi ini dibutuhkan untuk melakukan operasi harian. Jejak audit membantu para karyawan merespons pertanyaan pelanggan dengan menunjukkan status saat ini transaksi yang diproses. Kedua, jejak audit memainkan peran penting dalam audit keuangan perusahaan. Jejak audit memungkinkan auditor eksternal (dan internal) untuk memverifikasi berbagai transaksi terpilih melalui penelusuran dari laporan keuangan ke akun-akun di buku besar, jurnal, dan dokumen sumber, serta kembali ke asalnya. Untuk alasan penggunaan yang praktis dan kewajiban hukum, perusahaan harus memelihara catatan akuntansi yang memadai untuk menjaga jejak auditnya.

    Lingkungan PC sering mengalami kehilangan data yang mengancam catatan akuntansi dan jejak audit. Kegagalan disket komputer merupakan sebab utama dari kehilangan data. Saat kejadian ini terjadi, pemulihan data yang disimpan dalam disket mungkin menjadi mustahil. Prosedur formal untuk membuat data cadangan dari file data dan program dapat mengurangi permasalahan ini. Dalam lingkungan mainframe, cadangan disediakan secara otomatis. Pembuatan data cadangan pada lingkungan PC memerlukan kesadaran dari pengguna, yang sering kali mengabaikan pentingnya aktivitas ini.

    Perusahaan menghasilkan pendapatan melalui aktivitas formal yang berupa siklus pendapatan. Banyak fungsi organisasi berbasis kredit, yang kadang berjalan antara point of sale dan penerimaan kas. Siklus pendapatan dibagi menjadi dua subsistem: (1) subsistem pemrosesan pesanan penjualan dan (2) subsistem penerimaan kas. Bab ini membahas siklus pendapatan pada perusahaan dagang dan dikhusukan pada bidang: (1) departemen fungsional dari siklus pendapatan dan alur informasi transaksi yang menghubungkannya; (2) dokumen, jurnal, dan akun yang menyediakan jejak audit, meningkatkan pemeliharaan catatan historis, mendukung pengambilan keputusan internal, dan mendukung pelaporan keuangan; serta (3) risiko pada siklus pendapatan dan teknik pengendalian yang dapat mengurangi risiko tersebut.

    Bab ini membahas implikasi operasional dan pengendalian dari berbagai tingkat teknologi. Pertama, dibahas teknik pemrosesan batch. Metode ini meningkatkan efisiensi dan efektivitas penyimpanan catatan tetapi mempunyai dampak yang kecil pada kegiatan operasional. Kemudian dibahas pemrosesan secara real-time dan pengaruhnya pada kegiatan operasional. Pendekatan ini sangat memperpendek siklus kas pada perusahaan dan dapat memberikan keunggulan bersaing melalui peningkatan efektivitas operasional. Informasi yang disediakan dengan memakai pemrosesan secara real-time mempertinggi kemampuan perusahaan untuk melakukan penjualan dan menaikkan kepuasan pelanggan. Selain itu, pemrosesan secara real-time mengurangi pemakaian kertas dalam sistem.

    Kemudian, dibahas isu-isu pengendalian pada lingkungan digital dan ditemukan bahwa pemrosesan komputer menggabungkan banyak tugas, sehingga menghilangkan beberapa pemisahan tugas pada sistem tradisional. Integrasi program komputer yang sekarang mengerjakan tugas-tugas tersebut menjadi pokok perhatian perusahaan. Dibahas juga bahwa file transaksi digital menggantikan jurnal penjualan dan penerimaan kas tradisional pada lingkungan elektronik dan merupakan komponen yang penting dalam jejak audit. Oleh sebab itu, organisasi harus mengendalikan akses ke file akuntansi dan program yang melakukan pembaruan dan manipulasi. Akhirnya dijelaskan isu-isu penting dalam pembuatan cadangan data.

    Bagian terakhir pada bab ini berhubungan dengan sistem akuntansi PC. Desain modular pada sistem ini memungkinkan para pengguna untuk menyesuaikan sistem tersebut dengan keinginan mereka. Fitur ini menghasilkan peningkatan penggunaan pemakaian komputer yang mengubah cara organisasi melakukan bisnisnya. Lingkungan PC memunculkan beberapa risiko yang harus diketahui oleh akuntan. Tiga dari risiko yang utama adalah (1) kurangnya pemisahan tugas yang memadai; (2) sistem operasi PC yang tidak secanggih mainframe, sehingga sulit untuk membatasi akses ke data; dan (3) kegagalan komputer dan tidak memadainya prosedur pembuatan cadangan data yang sangat bergantung pada intervensi manusia, sehingga mengancam keamanan catatan akuntansi.

    Hall, James A. 2007. Sistem Informasi Akuntansi. Jakarta: Salemba Empat.

  10. Arief Rachman Prasetyo says:

    1105131/ARIEF RACHMAN PRASETYO/2011-A/SIA-1

    Pengertian Jurnal
    Catatan secara sistematis dan kronologis dari transaksi-transaksi finansial dengan menyebutkan perkiraan yang akan didebet dan dikredit, jumlah dan keterangan ringkas. Jurnal merupakan catatan transaksi finansial yang pertama karena itu disebut juga sebagai catatan yang asli (book of original entry).

    Pentingnya Jurnal
    a. Jurnal merupakan pencatatan akuntansi permanen pertama yang digunakan untuk mencatat transaksi keuangan perusahaan.
    b. Pencatatan dalam jumal biasanya lengkap dan terinci, serta menurut urutan tanggal kejadian transaksi
    c. Jurnal harus dirancang sedemikian rupa karena jumal merupakan catatan akuntansi yang pertama, sehingga tidak boleh terjadi satu transaksi pun yang tidak dicatat.
    d. Catatan yang dilakukan di dalam jumal biasanya lengkap dengan penjelasan, tanggal dan informasi lain, karena akan digunakan untuk mengusut kembali ke dokumen sumbemya (formulir).

    Prinsip Dasar yang Melandasi Perancangan Jurnal
    1. Harus tersedia jumal dalam jumlah yang cukup memadai sehingga memungkinkan perusahaan untuk menggunakan karyawan dalam mencatat dengan segera transaksi keuangan yang terjadi.
    2. Jurnal akan digunakan untuk memisahkan transaksi ke dalam penggolongan pokok tertentu, seperti penerimaan kas, pengeluaran kas, penjualan dan pembelian.
    3. Untuk mengurangi pekerjaan pembukuan yang terinci harus digunakan kolom-kolom khusus dalam jurnal, sehingga memungkinkan pembukuan (posting) jumlah per kolom ke dalam rekening yang bersangkutan di dalam buku besar.
    4. Nama kolom dalam jumal harus sesuai dengan nama rekening yang bersangkutan dalam buku besar, yang akan menerima jumlah yang akan dibukukan dari jumal.
    5. Kolom-kolom dalam jumal digunakan untuk mengumpulkan angka yang akan diringkas dalam rekening yang bersangkutan dalam buku besar.
    6. Sedapat mungkin jumal harus dirancang sedemikian rupa sehingga pekerjaan menyalin informasi dari dokumen sumbemya dibuat sangat Harus ditetapkan hubungan antara dokumen sumber tertentu dengan jumal sehingga pertanggungjawaban kebenaran informasi dapat ditentukan.

    Macam-macam Jurnal
    1. Jurnal penjualan
    2. Jurnal pembelian
    3. Jurnal penerimaan kas
    4. Jurnal pengeluaran kas
    5. Jurnal umum

    Langkah Perancangan Jurnal
    1. Mengumpulkan informasi mengenai karakteristik transaksi yang terjadi dalam perusahaan.
    2. Membuat jurnal standar (standard journal entries) untuk setiap jenis transaksi yang frekuensi terjadinya tinggi.
    3. Merancang jurnal berdasarkan jurnal standar tersebut.

    Fungsi Jurnal
    a.Fungsi Pencatatan, artinya semua transaksi yang terjadi berdasarkan bukti dokumen yang ada harus dicatat seluruhnya.
    b. Fungsi Historis, artinya transaksi yang terjadi harus dicatat sesuai urutan waktu.
    c. Fungsi Analisis, artinya setiap transaksi yang dicatat dalam jurnal harus merupakan hasil analisis dari bukti – bukti transaksi.
    d. Fungsi Instruktif, artinya pencatatan dalam jurnal merupakan instruksi atau perintah untuk melakukan posting debet / kredit ke dalam buku besar.
    e. Fungsi Informatif, artinya jurnal dapat memberikan informasi mengenai transaksi yang terjadi.

    2. Buku Besar
    Buku Besar (general ledger) merupakan kumpulan rekening-rekening yang digunakan untuk menyortasi dan meringkas informasi yang telah dicatat dalam jurnal.
    Buku besar pembantu (subsidiary ledger) adalah suatu cabang buku besar yang berisi rincian rekening tertentu yang ada dalam buku besar.
    Formulir rekening buku besar.
    Ada berbagai variasi bentuk formulir rekening buku besar :
    1. Rekening dengan debit lebar (wide debit ledger)
    2. Rekening biasa (regular ledger)
    3. Rekening berkolom saldo di tengah (center balance ledger)
    4. Rekening berkolom saldo (balance ledger)
    5. Rekening ganda berkolom saldo (double ledger with balance ledger)
    6. Rekening dengan saldo lama dan saldo baru (old and new balance ledger)
    Susunan rekening buku besar.
    Rekening-rekening yang dibentuk dalam buku besar harus disesuaikan dengan jenis dan susunan informasi yang akan disajikan dalam laporan keuangan. Sebagai contoh jenis dan susunan informasi mengenai aktiva lancar di dalam neraca perusahaan manufaktur umumnya adalah sbb :
    Kas , investasi sementara, piutang, cadangan kerugian piutang, persediaan produk jadi, persediaan produk dalam proses, persediaan bahan baku dan bahan penolong, persekot biaya, aktiva lancar lain.
    Kode rekening.
    Kode adalah suatu rerangka (framework) yang menggunakan angka atau huruf kombinasi angka dan huruf untuk memberi tanda terhadap klasifikasi yang sebelumnya telah dibuat. Kode ini memudahkan identifikasi dan pembedaan elemen-elemen yang ada di dalam suatu klasifikasi.
    Tujuan kode rekening:
    1. Mengidentifikasi data akuntansi secara unik
    2. Meringkas data
    3. Mengklasifikasi rekening atau transaksi
    4. Menyampaikan makna tertentu
    Metode pemberian nomor rekening.
    1. Kode Angka atau Alafabet Urut (numerical-or alphabeticsequence code)
    2. Kode Angka Blok (block numerical code)
    3. Kode Angka Kelompok (group numerical code)
    4. Kode Angka Desimal (decimal code)
    5. Kode Angka Urut Didahului dengan Huruf (numerical sequence preceded by an alphabetic reference)
    Hal yang perlu dilakukan dalam merancang kode rekening:
    1. Rerangka kode harus secara logis memenuhi kebutuhan pemakai dan metode pengolahan data yang digunakan.
    2. Setiap kode harus mewakili secara unik unsur yang diberi kode.
    3. Desain kode harus mudah disesuaikan dengan tuntutan perubahan. Jika struktur kode harus diubah setiap kali menghadapi tuntutan perubahan, hal ini akan memerlukan biaya perubahan dan membingungkan pemakai.

    Sumber:
    Azhar Susanto. Sistem Informasi Akuntansi, Bandung: LinggaJaya
    http://jurnal-akuntansi.blogspot.co.id/2012/05/jurnal-pada-akuntansi-sistem-informasi.html
    http://www.slideshare.net/indahdlestari520/sistem-informasi-akuntansi-buku-besar-dan-buku-pembantu

  11. Naomi Sianturi says:

    1403884 / Naomi Sianturi / 2014-A / SIA

    Catatan Akuntansi Terdiri Dari:
    1. Jurnal
    2. Buku Besar

    Pengertian Jurnal
    Jurnal merupakan transaksi-transaksi keuangan suatu badan usaha yang dicatat berdasarkan dokumen-dokumen pembukuan yang bertujuan untuk pendataan. Jurnal dikenal juga sebagai buku pemasukan utama karena menjadi tempat terjadinya pencatatan transaksi pertama atau penyesuaian pemasukan transaksi-transaksi.
    Kemudian pengertian jurnal dapat juga dijabarkan sebagai suatu terbitan yang diterbitkan dalam waktu yang berkala.
    Jadi, jurnal adalah suatu buku atau catatan transaksi-transaksi keuangan yang secara kronologis dan sistematis digunakan dengan menuliskan akun yang harus didebit dan dikredit. Dalam hal ini, artinya sumber pencatatan ke dalam jurnal adalah bukti, serta pencatatan transaksi dilakukan secara berurutan (kronologis) sesuai tanggal terjadinya transaksi. Sistematis artinya pencatatan yang dilakukan dengan mengikuti aturan mendebit dan mengkredit akun. Selain itu, setiap transaksi dicatat secara berpasangan ke dalam debit dan kredit (double entry accounting), dan jumlah debit dengan jumlah kredit harus sama/seimbang.

    Jurnal mempunyai beberapa fungsi, yaitu:

    1. Fungsi Mencatat: jurnal menentukan akun mana dan dengan jumlah berapa suatu transaksi dicatat.
    2. Fungsi Historis: jurnal dicatat dengan mendahulukan transaksi yang lebih dulu dilakukan sesuai dengan urutan waktu terjadinya.
    3. Fungsi Analisis: untuk menentukan nama akun, jumlah uang yang dicatat, dan disisi mana (debet/kredit) pencatatan dilakukan, bukti transaksi terlebih dahulu dianalisis. Hasil analisis itulah yang dicatat pada jurnal.
    4. Fungsi Instruktif: jurnal merupakan suatu perintah atau instruksi. Akun harus diisi sesuai dengan apa yang tercatat pada jurnal. Jika instruksi jurnal tidak diikuti maka pengisian akun salah.
    5. Fungsi Informatif: jurnal menyajikan tanggal, nama akun, keterangan singkat mengenai transaksi, dan jumlah uang yang terlibat dalam suatu transaksi.

    Bentuk-bentuk Jurnal Umum
    Jurnal umum merupakan catatan pertama atas transaksi-transaksi yang terjadi dengan cara mendebet dan mengkredit perkiraan yang bersifat histories dan kronologis. Jurnal umum juga merupakan formulir khusus yang dipakai untuk mencatat setiap bukti pencatatan berupa pendebetan dan pengkreditan secara runtut dan berisi penjelasan-penjelasan yang terkait dengan transaksi tersebut.
    Bentuk atau format buku jurnal sebagai tempat mencatat transaksi pada setiap perusahaan mungkin berbeda, tetapi bentuk standar Jurnal Umum (General Journal) terdiri atas kolom-kolom dengan keterangan:
    1. Kolom tanggal digunakan untuk mencatat tanggal, bulan, dan tahun terjadinya transaksi.
    2. Kolom akun/keterangan digunakan untuk mencatat transaksi yang didebet dan dikredit, disertai keterangan singkat tentang transaksi tersebut.
    3. Kolom ref. (referensi) digunakan untuk mencatat kode akun ketika ayat jurnal dipindahkan ke buku besar. Sebelum dipindahkan, kolom ref. tetap dalam keadaan kosong.
    4. Kolom debet digunakan untuk mencatat nilai transaksi.
    5. Kolom kredit digunakan untuk mencatat nilai transaksi.
    6. Halaman digunakan sebagai referensi pada buku besar.

    Manfaat Jurnal
    Manfaat jurnal umum adalah untuk menghindari adanya kesalahan-kesalahan pencatatan pada saat memasukkan data transaksi ke sebelah debet dan kreditnya.

    Buku Besar
    Buku besar dalam ilmu akuntansi diartikan sebagai sebuah buku yang memuat kumpulan akun atau kumpulan rekening yang sumbernya dari seluruh bukti transaksi keuangan yang sudah tercatat dalam buku jurnal baik jurnal umum maupun jurnal khusus. Sebagaimana yang tercantum dalam pengertian diatas kita dapat ambil poin penting diantaranya bahwa input buku besar adalah akun-akun yang telah dicatat dalam jurnal umum (jika dalam perusahaan jasa) atau jurnal khusus (jika dalam perusahaan dagang). Poin yang kedua bahwa dalam buku besar isinya adalah nama-nama akun beserta saldonya yang terdapat diperusahaan tersebut. Poin yang ketiga bahwa buku besar dapat disusun setelah jurnal umum atau jurnal khusus disusun, hal ini karena sumber penyusunan buku besar adalah jurnal. Nahh kiranya dengan penjabaran ketiga poin diatas anda dapat mengerti tentang apa itu buku besar, sekarang kita bahas manfaat penyusunan buku besar.
    Manfaat Penyusunan Buku Besar
    Sebenarnya apa manfaat buku besar? Mengapa buku besar harus disusun?.. inilah yang akan diuraikan. Buku besar memiliki beberapa manfaat diantaranya adalah: Buku besar dapat mempermudah dalam pemberian informasi kepada pihak tertentu misalnya pimpinan perusahaan. Contohnya ketika pemimpin perusahaan bertanya berapa saldo kas sekarang? Maka karyawan dapat menjawabnya dengan pasti setelah melihat buku besar. Kegunaan buku besar yang lainnya adalah menjadi sumber penyusunan neraca saldo pada periode tertentu. Setelah mengetahui pengertian dan manfaat buku besar maka selanjutnya perlu juga mengetahui format buku besar, silahkan lihat uraian berikut ini.

    Jenis Buku Besar
    1. Buku Besar Umum (General Ledger): Buku Besar Umum sering disebut juga buku besar induk, yaitu semua perkiraan yang ada dalam suatu periode tertentu seperti kas, piutang usaha, persediaan utang usaha dan modal. Perkiraan-perkiraan ini saling berdiri sendiri dan berfungsi mengikhtisarkan pengaruh transaksi terhadap perubahan aktiva, kewajiban dan modal perusahaan. Sistem Buku Besar Umum menampilkan proses transaksi untuk Buku Besar Umum dan Siklus Pelaporan Keuangan.
    Tujuan Buku Besar Umum (General Ledger):
    1. Mencatat semua transaksi akuntansi secara akurat dan benar.
    2. Memposting transaksi-transaksi ke akun yang tepat.
    3. Menjaga keseimbangan debet dan kredit pada akun.
    4. Mengakomodasi entry jurnal penyesuaian yang dibutuhkan.
    5. Menghasilkan laporan keuangan yang dapat dipercaya dan tepat waktu untuk setiap periode akuntansi
    Fungsi Buku Besar Umum (General Ledger):
    1. Mengumpulkan data transaksi
    2. Mengklasifikasikan dan mengkodekan data transaksi dan akun
    3. Memvalidasi transaksi yang terkumpul
    4. Meng-update-kan Akun Buku Besar Umum dan File Transaksi
    5. Mencatatkan penyesuaian terhadap Akun
    6. Mempersiapkan Laporan Keuangan
    2. Buku Besar Pembantu (Subsidiary Ledger): sering disebut juga buku tambahan, yaitu sekelompok rekening yang khusus mencatat perincian piutang usaha dan utang usaha yang berfungsi member informasi yang lebih mendetail. Pada umumnya, Pembuatan Buku Pembantu adalah untuk pengendalian akuntansi yang banyak elemennya, seperti Hutang, Piutang, dan Persediaan.
    Buku Besar Pembantu terbagi atas:
    a. Buku Besar Pembantu Piutang Usaha sering disebut juga buku piutang yang disediakan khusus untuk merinci langganan kredit, kepada siapa sajakah perusahaan melakukan transaksi penjualan kredit, dimanakah alamatnya dan berapakah jumlahnya. Dalam buku piutang, keadaan tagihan kepada tiap langganan dicatat dalam daftar-daftar tersendiri. Perubahan piutang dagang secara keseluruhan dicatat pada perkiraan piutang dagang di buku besar umum, sebagai perkiraan induk. Sedangkan perubahan kepada masing-masing langganan dicatat pada perkiraan masing-masing dalam perkiraan buku besar pembantu piutang.
    b. Buku Besar Pembantu Utang sering disebut juga buku utang. Buku ini disediakan khusus untuk mencatat masing-masing pemasok secara terperinci yang banyaknya ditentukan oleh banyaknya pemasok yang memberikan pinjaman kredit, baik berupa barang dagangan maupun aktiva lainnya. Seperti halnya dalam buku piutang, dalam buku utangpun keadaan utang pada setiap pemasok dicatat dalam daftar-daftar tersendiri. Perubahan utang secara keseluruhan dicatat pada perkiraan utang dagang dalam buku besar umum. Sedangkan perubahan kepada masing-masing pemasok, dicatat pada perkiraan masing-masing dalam buku besar pembantu.
    Kelebihan Buku Besar Pembantu:
    1. Memudahkan penyusunan laporan keuangan, karena buku besar umum terdiri dari akun-akun yang jumlahnya lebih sedikit. Hal ini juga akan mengurangi kesalahan-kesalahan dalam buku besar umum.
    2. Ketelitian dalam pembukuan dapat diuji dengan membanding-kan saldo dalam akun buku besar umum dengan jumlah saldo-saldo dalam buku pembantu.
    3. Dapat diadakan pembagian tugas dalam pengrjaan akuntansi.
    4, Memungkinkan pumbukuan harian dari bukti-bukti pendukung transaksi kedalam buku pembantu.
    5. Bisa segera diketahui jumlah macam-macam elemen

    Bentuk Buku Besar dalam pembukuan
    Buku besar itu seperti apa? Apakah buku yang ukurannya besar?… mungkin inilah pertanyaan bagi anda yang baru memahami mata pelajaran akuntansi. Sebagaimana yang diuraikan dalam pengertian buku besar diatas bahwa buku besar itu buku yang berisi akun-akun beserta total saldonya, jadi dalam buku besar dalam lembar demi lembarnya berisi akun-akun yang dimiliki perusahaan beserta saldo totalnya. Nah untuk lebih jelasnya silahkan lihat jenis format buku besar berikut ini:

    Bentuk Buku Besar yang biasa digunakan adalah :
    1. Bentuk T (T account) Bentuk buku besar ini adalah yang paling sederhana dan hanya berbentuk seperti huruf T besar. Sebelah kiri menunjukan sisi Debet dan sebelah kanan menunjukan sisi Kredit. Nama akun diletakan di kiri atas dan kode akun diletakan di kanan atas.
    2.Bentuk Skontro; Buku besar bentuk skontro biasa disebut bentuk dua kolom. Skontro artinyasebelah menyebelah(dibagi dua) yaitu sebelah debet dan sebelah kredit
    3. Bentuk staffle (berkolom saldo tunggal)
    Bentuk ini digunakan jika diperlukan penjelasan dari transaksi yang realtif banyak.
    4. Bentuk Staffle berkolom saldo rangkap
    Bentuk ini hamper sama dengan bentuk kolom saldo tunggal. Hanya perbedaannya kolom saldo dibagi dua kolom yaitu kolom debet dan kolom kredit, contohnya di bawah ini :

    Sumber:
    http://rezky-rachma01.blogspot.co.id/2012/11/pengertian-bentuk-bentuk-dan-manfaat.html
    http://operaterpm.blogspot.co.id/

  12. Septi Nurmalita says:

    1403971/Septi Nurmalita/2014-A/SIA

    Dalam proses sistem akuntansi pokok, jurnal menduduki posisi yang unik. Setelah data dalam formulir, langkah berikutnya dalam proses pengolahan informasi keuangan adalah mencatat data tersebut untuk pertama kalinya dalam formulir, langkah berikutnya dalam proses pengolahan informasi keuangan adalah mencatat data tersebut untuk pertama kalinya dalam catatan akuntansi yang permanen.
    Pentingnya Jurnal
    setelah suatu transaksi dicatat dalam formulir, pencatatan akuntansi yang pertama kali dilakukan adalah dalam jurnal. Dibandingkan dengan catatan akuntansi yang lain, pencatatan di dalam jurnal ini biasanya lebih lengkap dan rinci, serta menurut urutan tanggal kejadian transaksi.
    Kolom-kolom dalam jurnal diisi dengan data :
    a. Kolom tanggal. Kolom ini diisi dengan tanggal terjadinya transaksi
    b. Kolom keterangan, kolom ini diisi dengan lengkap keterangan mengenai transaksi yang terjadi
    c. Kolom nomor bukti, digunakan untuk mencatat nomor formulir yang dipakai secara dasar pencatatan data dalam jurnal tersebut.
    d. Kolom nomor rekening. Kolom ini diisi dengan nomor rekening yang didebit dan nomor rekening yang dikredit dengan adanya transaksi.
    e. Kolom debit dan kredit. Kolom ini diisi dengan jumlah rupiah transaksi
    Prinsip Dasar yang melandasi perancangan jurnal
    a. Harus tersedia jurnal dalam jumlah yang memadai sehingga memungkinkan perusahaan untuk menggunakan karyawan dalam mencatat dengan segera transaksi keungan yang terjadi
    b. Jurnal akan digunakan untuk memisahkan transaksi ke dalam penggolongan pokok tertentu
    c. Untuk mengurangi pekerjaan pembukuan yang terinci
    d. Nama kolom dalam jurnal harus sesuai dengan nama rekening yang bersakungkutan dalam buku besar, yang akan meneriksa jumlah yang akan dibukukan dalam jurnal
    e. Kolom-kolom dalam jurnal digunakan untuk mengumpulkan angka yang akan diringkas dalam rekening yang bersangkutan dalam buku besar
    f. Sedapat mungkin jurnal harus dirancang sedemikian rupa sehingga pekerjaan menyalin hinformasi dari dokumen sumbernya dibuat sangat minimum
    g. Harus ditetapkan hubungan antara dokumen sumber tertentu dengan jurnal
    Jenis Jurnal
    a. Jurnal Penjualan
    Jurnal ini digunaka n untuk mencatat transaksi penjualan baik penjualan kredit maupun penjualan tunai
    b. Jurnal Pembelian
    Jurnal pembelian digunakan untuk mencatat transaksi pembelian kredit
    c. Jurn al pengeluran kas
    Jurnal pengeluaran kas digunakan untuk mencatat transaksi pengeluaran kas
    d. Jurnal umum
    Jurnal umum digunakan untuk mencatat transaksi selain yang dicatat dalam jurnal khusus
    Buku besar merupakan kempulan rekening-rekening yang digunakan untuk menyortasi dan meringkas informasi yang telah dicatat dalam jurnal.
    Rekening buku besar umumnya berbentuk T, yang merupakan catatan akuntansi yang dibagi dua secara vertikal, sebelah kiri disebut debit, dan sebelah kanan disebut kredit. Ada berbagai variasi bentuk formulir rekening buku besar;
    a. Rekening dengan debit lebar
    b. Reekening biasa
    c. Rekening berkolom saldo di tengah
    d. Rekening berkolom saldo
    e. Rekening ganda berkolom saldo
    f. Rekening dengan saldo lama dan saldo baru
    Kode Rekening
    adalah suatu kerangka yang menggunakan angka atau huruf atau kombinasi angka dan huruf untuk memberi tanda terhadap klasifikasi yang sebelumnya telah dibuat. Kode ini memudahkan idetntitas dan pembedaan elemen-elemen yang ada di dalam suatu klasifikasi.
    Metode pemberian kode rekening
    Pemberian kode rekening umumnya didasarkan pada kerangka pemberian kode tertentu, sehingga memudahkan pemakai dalam penggunaanya. Ada 5 metode pemberian kode rekening
    a. Kode angka atau alfabet urut.
    Dalam metode pemberian kode ini, rekening buku besar diberi kode angka atau huruf yang berurutan
    b. Kode angka blok.
    Dalam metode pemberian kode ini, rekening buku besar dikelompokkan menjadi beberapa golongan dan setiap golongan disediakan satu blok angka yang berurutan untuk memberi kodenya.
    c. Kode angka kelompok.
    Kode angka kelompok ini mempunyai karakeristik sebagai berikut : 1. Rekening diberi kode angka; 2. Jumlah angka dalam kode adalah tetap; 3. Posisi angka dalam kode mempunyai arti tertentu. 4. Perluasan klasifikasi dilakukan dengan memberi cadangan angka ke kanan.
    d. Kode angka utut didahului dengan huruf.
    Metode ini menggunakan kode berupa kombinasi angka dan huruf. Setiap rekening diberi kode angka yang dimukanya dicantumkan huruf singkatan kelompok rekening tersebut.
    Sumber : ___.1990. SISTEM AKUNTANSI PROYEK PENGEMBANGAN PENDIDIKAN AKUNTANSI DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN 1990-1991. Departemen pendidikan dan kebudayaan : Jakarta

  13. Yosep Frianto Sianipar says:

    1403066 / Yosep Frianto Sianipar / 2014A / SIA

    CATATAN AKUNTANSI

    Menurut Mulyadi (2008: 218) catatan akuntansi yang digunakan adalah :
    1. Jurnal Penjualan
    Jurnal penjualan digunakan untuk mencatat transaksi penjualan baik penjualan tunai maupun kredit.
    2. Kartu Piutang
    Catatan akuntansi ini merupakan buku pembantu yang berisi mutasi piutang perusahaan kepada tiap debiturnya.
    3. Kartu Persediaan
    Catatan akuntansi ini merupakan buku pembantu yang berisi rincian mutasi setiap jenis persediaan.
    4. Kartu Gudang
    Catatan akuntansi ini diselenggarakan oleh fungsi gudang untuk mencatat mutasi dan persediaan fisik barang yang ada di gudang.
    5. Jurnal Umum
    Jurnal ini digunakan untuk mencatat harga pokok produk yang dijual selama periode tertentu.

    #JURNAL
    Jurnal adalah alat untuk mencatat transaksi-transaksi yang terjadi diperusahaan yang dilakukan secara kronologis (berdasarkan urut waktu terjadinya) dengan menunjukan rekening yang harus didebet dan dikredit beserta jumlah rupiahnya masing-masing.
    Menurut Dr. Erhans dan Junaedi Yusuf (2000:76)
    Jurnal yaitu formulir yang digunakan untuk mencatat dan mengelompokkan transaksi secara kronologis. Adapun proses pencatatan dapat digambarkan sebagai berikut:
    Transaksi yang terjadi >> Surat bukti pembukuan >> Jurnal >> Perkiraan>> Neraca saldo
    JURNAL (Journal) adalah catatan akuntansi permanen yang pertama (book of original entry), yang digunakan untuk mencatat transaksi keuangan perusahaan secara kronologis dengan menyebutkan akun yang di Debet maupun yang di Kredit.
    Fungsi jurnal meliputi :
    1. Fungsi historis, yaitu jurnal merupakan kegiatan mencatat semua transaksi keuangan secara kronologis atau berurutan sesuai dengan tanggal terjadinya.
    2. Fungsi mencatat, yaitu jurnal merupakan pencatatan yang lengkap terperinci, artinya semua transaksi dengan sumbernya harus dicatat tanpa ada yang ketinggalan.
    3. Fungsi analisis, yaitu jurnal menganalisis transaksi untuk menentukan akun yang harus di Debet maaupun yang di Kredit.
    4. Fungsi instruktif, yaitu jurnal merupakan perintah memposting dalam buku besar baik yang di Debet maupun yang di Kredit sesuai hasil analisis dalam jurnal.
    5. Fungsi informatif, yaitu jurnal memberikan keterangan kegiatan perusahaan secara jelas.

    Jurnal sangat penting dalam suatu sistem akuntansi karena adanya beberapa karakteristik berikut,
    a. Jurnal merupakan pencatatan akuntansi permanen pertama yang digunakan untuk mencatat transaksi keuangan perusahaan.
    b. Pencatatan dalam jurnal biasanya lengkap dan terinci, serta menurut urutan tanggal kejadian transaksi.
    c. Jurnal harus dirancang sedemikian rupa karena jurnal merupakan catatan akuntansi yang pertama, sehingga tidak boleh terjadi satu transaksi pun yang tidak dicatat.
    d. Catatan yang dilakukan di dalam jurnal biasanya lengkap dengan penfjelasan, tanggal, dan informasi lain, karena akan digunakan untuk mengusut kembali ke dokumen sumbernya (formulir).
    Jika transaksi perusahaan masih sedikit, jurnal umum sudah cukup memadai. Namun, jika transaksi sudah mulai banyak, maka dibutuhkan tambahan yang biasa disebut jurnal khusus, yang mana diperlukan karena:
    – Untuk mengumpulkan dan menggolongkan transaksi yang sama yang frekuensinya terjadinya tinggi.
    – Untuk mengurangi pekerjaan pembukuan ke dalam buku besar dan untuk menggolongkan transaksi yang dicatat.
    – Untuk memungkinkan pengerjaan pencatatan transaksi ke dalam jurnal dilakukan oleh beberapa orang.
    – Untuk menciptakan pengawasan intern.
    Adapun prinsip-prinsip yang melandasi perancangan jurnal :
    1. Harus tersedia jurnal dalam jumlah yang cukup memadai sehingga memungkinkan perusahaan untuk menggunakan karyawan dalam mencatat dengan segera transaksi keuangan yang terjadi.
    2. Jurnal akan digunakan untuk memisahkan transaksi ke dalam penggolongan pokok tertentu, seperti penerimaan kas, pengeluaran kas, penjualan dan pembelian.
    3. Untuk mengurangi pekerjaan pembukuan yang terinci harus digunakan kolom-kolom khusus dalam jurnal, sehingga memungkinkan pembukuan (posting) jumlah per kolom ke dalam rekening yang bersangkutan di dalam buku besar.
    4. Nama kolom dalam jurnal harus sesuai dengan nama rekening yang bersangkutan dalam buku besar, yang akan menerima jumlah yang akan dibukukan dari jurnal.
    5. Kolom-kolom dalam jurnal digunakan untuk mengumpulkan angka yang akan diringkas dalam rekening yang bersangkutan dalam buku besar.
    6. Sedapat mungkin jurnal harus dirancang sedemikian rupa sehingga pekerjaan menyalin informasi dari dokumen sumbernya dibuat sangat minimum.
    7. Harus ditetapkan hubungan antara dokumen sumber tertentu dengan jurnal sehingga pertanggungjawaban kebenaran informasi dapat ditentukan.

    # BUKU BESAR
    Menurut Gito Brahmana,
    Buku besar (Ledger) adalah kumpulan akun-akun yang digunakan untuk meringkas transaksi yang telah dicatat dalam jurnal. Buku besar juga dapat diartikan tahapan catatan terakhir dalam akuntansi (book of final entry) yang menampung ringkasan data yang sudah dikelompokan atau diklasifikasikan yang berasal dari jurnal.
    Menurut SunFish ERP,
    Buku Besar adalah pusat dari pencatatan perusahaan dari semua transaksi yang muncul. Terbentuk melalui penempatan transaksi dari jurnal umum yang merupakan ringkasan dari semua jurnal pembantu dan penelusuran history.

    Dalam akuntansi, bagan akun standar adalah daftar nomor akun yang terdiri dari buku besar perusahaan. Bagan rekening perusahaan pada dasarnya merupakan sistem pengarsipan untuk mengelompokkan semua account sebuah perusahaan dan mengelompokkan semua transaksi sesuai dengan account mereka mempengaruhi. Bagan rekening daftar kategori mungkin termasuk aktiva, kewajiban, ekuitas pemilik, pendapatan, harga pokok penjualan, biaya operasi, dan akun lain yang relevan.
    Sebuah bagan akun standar diatur sesuai dengan sistem numerik. Setiap kategori utama akan dimulai dengan nomor tertentu, dan kemudian di sub-kategori dalam kategori besar semua akan dimulai dengan nomor yang sama. Sebagai contoh, jika aktiva tersebut diklasifikasikan dengan nomor yang dimulai dengan 1 digit, maka rekening kas mungkin diberi label 101, piutang mungkin diberi label 102, persediaan mungkin diberi label 103, dan seterusnya. Dan jika account kewajiban diklasifikasikan berdasarkan nomor yang dimulai dengan 2 digit, maka hutang akan diberi label 201, utang jangka pendek mungkin akan diberi label 202, dan seterusnya.

    Tergantung pada ukuran perusahaan, bagan rekening mungkin termasuk rekening beberapa lusin atau mungkin meliputi beberapa ribu rekening. Tergantung pada kecanggihan dari perusahaan, bagan akun dapat kertas-based atau berbasis komputer. Bagan akun berguna untuk menganalisis transaksi masa lalu dan menggunakan data historis untuk memperkirakan tren masa depan.

    Prinsip dasar yang harus dijunjung oleh semua aturan prinsip-prinsip ini meliputi konsistensi, relevansi, reliabilitas, dan komparatif.

    Sumber : http://id.shvoong.com/writing-and-speaking/presenting/2135436-catatan-akuntansi-yang-digunakan/
    Yusuf, Junaedi & Dr. Erhans A. 2000. Akuntansi Berdasarkan Prinsip Akuntansi Indonesia. Jakarta: PT. Ercontara Rajawali
    S. Purnomo, Budi. 2006. Accounting Principles I. Sumedang: Pusat Pelayanan dan Pengembangan Ekonomi (P3E)
    http://milamashuri.wordpress.com/jurnal-umum/
    http://blog.re.or.id/jurnal.htm
    http://www.elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/soal…1/bagian3_jurnal.pdf
    http://milamashuri.wordpress.com/buku-besar/
    http://www.dataon.com/library/files/ERP-GL_ID.pdf
    http://goongbusiness.com/in/article-bebas/169-membuat-bagan-akun-chart-of-account.html

  14. 1400090 / JAJANG KOSWARA / 2014-A / SIA
    CATATAN AKUNTANSI
    I. JURNAL
    JURNAL adalah alat untuk mencatat transaksi-transaksi yang terjadi diperusahaan yang dilakukan secara kronologis (berdasarkan urut waktu terjadinya) dengan menunjukan rekening yang harus didebet dan dikredit beserta jumlah rupiahnya masing-masing. JURNAL (Journal) adalah catatan akuntansi permanen yang pertama (book of original entry), yang digunakan untuk mencatat transaksi keuangan perusahaan secara kronologis dengan menyebutkan akun yang di Debet maupun yang di Kredit.
    Menurut Dr. Erhans dan Junaedi Yusuf (2000:76), Jurnal yaitu formulir yang digunakan untuk mencatat dan mengelompokkan transaksi secara kronologis. Adapun proses pencatatan dapat digambarkan sebagai berikut:
    Transaksi yang terjadi >> Surat bukti pembukuan >> Jurnal >> Perkiraan >> Neraca saldo.
    Buku Jurnal yaitu merupakan catatan akuntansi yang dilaksanakan oleh Fungsi Akuntansi sebagai media untuk :
    1) Mencatat transaksi keuangan penerimaan kas berdasarkan dokumen transaksi yang sah, dan
    2) Menggolongkan transaksi keuangan ke dalam rekening-rekening (akun). Transaksi keuangan yang telah dicatat dan digolongkan ke dalam Buku Jurnal, selanjutnya secara periodik diposting ke dalam Buku Besar.

    Menurut Mulyadi (2008: 218) catatan akuntansi yang digunakan adalah :
    1) Jurnal Penjualan
    Jurnal penjualan digunakan untuk mencatat transaksi penjualan baik penjualan tunai maupun kredit.
    2) Kartu Piutang
    Catatan akuntansi ini merupakan buku pembantu yang berisi mutasi piutang perusahaan kepada tiap debiturnya.
    3) Kartu Persediaan
    Catatan akuntansi ini merupakan buku pembantu yang berisi rincian mutasi setiap jenis persediaan.
    4) Kartu Gudang
    Catatan akuntansi ini diselenggarakan oleh fungsi gudang untuk mencatat mutasi dan persediaan fisik barang yang ada di gudang.
    5) Jurnal Umum
    Jurnal ini digunakan untuk mencatat harga pokok produk yang dijual selama periode tertentu.
    Fungsi jurnal meliputi :
    1) Fungsi historis, yaitu jurnal merupakan kegiatan mencatat semua transaksi keuangan secara kronologis atau berurutan sesuai dengan tanggal terjadinya.
    2) Fungsi mencatat, yaitu jurnal merupakan pencatatan yang lengkap terperinci, artinya semua transaksi dengan sumbernya harus dicatat tanpa ada yang ketinggalan.
    3) Fungsi analisis, yaitu jurnal menganalisis transaksi untuk menentukan akun yang harus di Debet maaupun yang di Kredit.
    4) Fungsi instruktif, yaitu jurnal merupakan perintah memposting dalam buku besar baik yang di Debet maupun yang di Kredit sesuai hasil analisis dalam jurnal.
    5) Fungsi informatif, yaitu jurnal memberikan keterangan kegiatan perusahaan secara jelas.
    Jurnal sangat penting dalam suatu sistem akuntansi karena adanya beberapa karakteristik berikut :
    1) Jurnal merupakan pencatatan akuntansi permanen pertama yang digunakan untuk mencatat transaksi keuangan perusahaan.
    2) Pencatatan dalam jurnal biasanya lengkap dan terinci, serta menurut urutan tanggal kejadian transaksi.
    3) Jurnal harus dirancang sedemikian rupa karena jurnal merupakan catatan akuntansi yang pertama, sehingga tidak boleh terjadi satu transaksi pun yang tidak dicatat.
    4) Catatan yang dilakukan di dalam jurnal biasanya lengkap dengan penfjelasan, tanggal, dan informasi lain, karena akan digunakan untuk mengusut kembali ke dokumen sumbernya (formulir).
    Jika transaksi perusahaan masih sedikit, jurnal umum sudah cukup memadai. Namun, jika transaksi sudah mulai banyak, maka dibutuhkan tambahan yang biasa disebut jurnal khusus, yang mana diperlukan karena :
    1) Untuk mengumpulkan dan menggolongkan transaksi yang sama yang frekuensinya terjadinya tinggi.
    2) Untuk mengurangi pekerjaan pembukuan ke dalam buku besar dan untuk menggolongkan transaksi yang dicatat.
    3) Untuk memungkinkan pengerjaan pencatatan transaksi ke dalam jurnal dilakukan oleh beberapa orang.
    4) Untuk menciptakan pengawasan intern.
    Adapun prinsip-prinsip yang melandasi perancangan jurnal :
    1) Harus tersedia jurnal dalam jumlah yang cukup memadai sehingga memungkinkan perusahaan untuk menggunakan karyawan dalam mencatat dengan segera transaksi keuangan yang terjadi.
    2) Jurnal akan digunakan untuk memisahkan transaksi ke dalam penggolongan pokok tertentu, seperti penerimaan kas, pengeluaran kas, penjualan dan pembelian.
    3) Untuk mengurangi pekerjaan pembukuan yang terinci harus digunakan kolom-kolom khusus dalam jurnal, sehingga memungkinkan pembukuan (posting) jumlah per kolom ke dalam rekening yang bersangkutan di dalam buku besar.
    4) Nama kolom dalam jurnal harus sesuai dengan nama rekening yang bersangkutan dalam buku besar, yang akan menerima jumlah yang akan dibukukan dari jurnal.
    5) Kolom-kolom dalam jurnal digunakan untuk mengumpulkan angka yang akan diringkas dalam rekening yang bersangkutan dalam buku besar.
    6) Sedapat mungkin jurnal harus dirancang sedemikian rupa sehingga pekerjaan menyalin informasi dari dokumen sumbernya dibuat sangat minimum.
    7) Harus ditetapkan hubungan antara dokumen sumber tertentu dengan jurnal sehingga pertanggungjawaban kebenaran informasi dapat ditentukan.

    II. BUKU BESAR
    Buku Besar yaitu merupakan catatan akuntansi yang dilaksanakan oleh Fungsi Akuntansi sebagai media :
    1) Meringkas catatan transaksi keuangan yang telah digolongkan ke rekening-rekening (akun),
    2) Memberikan informasi saldo rekening-rekening dimaksud secara akumulatif. Catatan akuntansi berupa kumpulan rekening-rekening dalam Buku Besar selanjutnya secara periodik disusun ke dalam Laporan Keuangan. Buku Pembantu merupakan catatan akuntansi yang dilaksanakan oleh Fungsi Akuntansi sebagai media yang :
    a. Melengkapi (merinci atau menjabarkan) informasi rekening tertentu dalam Buku Besar, dan
    b. Menjadi alat uji silang terhadap rekening tertentu dimaksud dalam Buku Besar.

    Menurut Gito Brahmana, Buku besar (Ledger) adalah kumpulan akun-akun yang digunakan untuk meringkas transaksi yang telah dicatat dalam jurnal. Buku besar juga dapat diartikan tahapan catatan terakhir dalam akuntansi (book of final entry) yang menampung ringkasan data yang sudah dikelompokan atau diklasifikasikan yang berasal dari jurnal.

    Menurut SunFish ERP, Buku Besar adalah pusat dari pencatatan perusahaan dari semua transaksi yang muncul. Terbentuk melalui penempatan transaksi dari jurnal umum yang merupakan ringkasan dari semua jurnal pembantu dan penelusuran history.

    Dalam akuntansi, bagan akun standar adalah daftar nomor akun yang terdiri dari buku besar perusahaan. Bagan rekening perusahaan pada dasarnya merupakan sistem pengarsipan untuk mengelompokkan semua account sebuah perusahaan dan mengelompokkan semua transaksi sesuai dengan account mereka mempengaruhi. Bagan rekening daftar kategori mungkin termasuk aktiva, kewajiban, ekuitas pemilik, pendapatan, harga pokok penjualan, biaya operasi, dan akun lain yang relevan.
    Sebuah bagan akun standar diatur sesuai dengan sistem numerik. Setiap kategori utama akan dimulai dengan nomor tertentu, dan kemudian di sub-kategori dalam kategori besar semua akan dimulai dengan nomor yang sama. Sebagai contoh, jika aktiva tersebut diklasifikasikan dengan nomor yang dimulai dengan 1 digit, maka rekening kas mungkin diberi label 101, piutang mungkin diberi label 102, persediaan mungkin diberi label 103, dan seterusnya. Dan jika account kewajiban diklasifikasikan berdasarkan nomor yang dimulai dengan 2 digit, maka hutang akan diberi label 201, utang jangka pendek mungkin akan diberi label 202, dan seterusnya.

    Tergantung pada ukuran perusahaan, bagan rekening mungkin termasuk rekening beberapa lusin atau mungkin meliputi beberapa ribu rekening. Tergantung pada kecanggihan dari perusahaan, bagan akun dapat kertas-based atau berbasis komputer. Bagan akun berguna untuk menganalisis transaksi masa lalu dan menggunakan data historis untuk memperkirakan tren masa depan.
    Prinsip dasar yang harus dijunjung oleh semua aturan prinsip-prinsip ini meliputi konsistensi, relevansi, reliabilitas, dan komparatif.

    DAFTAR PUSTAKA
    Anisoerya. 2012. Catatan Akuntansi. [Online]. Tersedia : http://anisoerya.blogspot.co.id/2012/12/catatan-akuntansi.html. Diakses : 15 Desember 2016
    Ayu. 2015. Catatan Akuntansi. [Online]. Tersedia : http://www.kompasiana.com/klinikakuntansi/catatan-akuntansi_54f75f73a333112d358b4634. Diakses : 15 Desember 2016
    S. Purnomo, Budi. 2006. Accounting Principles I. Sumedang: Pusat Pelayanan dan Pengembangan Ekonomi (P3E)
    Yusuf, Junaedi & Dr. Erhans A. 2000. Akuntansi Berdasarkan Prinsip Akuntansi Indonesia. Jakarta: PT. Ercontara Rajawali

  15. pandenanda says:

    1403663/I WAYAN PANDE NANDA/2014-A/SIA

    APAKAH JURNAL ITU ?
    Setelah suatu transaksi direkam adlam formulir, pencatatan akuntansi yang pertama kali dilakukan adalah dalam jurnal.
    Pencatatan di dalam jurnal ini biasanya lebih lengkap dan lebih rinci, serta menurut urutan tanggal kejadian transaksi.
    Jurnal merupakan catatan akuntansi permanen yang pertama, yang digunaka untuk mencatat transaksi keuangan perusahaan.
    Jurnal harus dirancang sedemikian rupa sehingga tidak ada satupun transaksi yang tidak dicatat; catatan yang dicatat lengkap dengan penjelasan dan informasi lain, agar catatan tersebut mudah diusut kembali ke dokumen sumbernya.
    1. Jurnal Umum
    Jika jenis transaksi perusahaan masih sedikit, jurnal umum dengan dua kolom, debit dan kredit sudah cukup memadai sebagai catatan akuntansi pertama.
    Jurnal ini digunakan untuk menampung transaksi penjualan, pembelian, penerimaan dan pengeluaran kas, depresiasi aktiva tetap dan transaksi lainnya.
    Karena dalam perusahaan kecil volume transaksinya masih sedikit, jurnal umum seperti tampak pada gambar diatas.
    Kolom-kolom dalam jurnal umum tersebut diisi data berikut ini:
    a). Kolom Tanggal.
    Kolom ini diisi dengan tanggal terjadinya transaksi, yang diisi secara berurutan sesuai dengan kronologi terjadinya transaksi.
    b). Kolom Keterangan
    Kolom ini diisi dengan keterangan lengkap mengenai transaksi yang terjadi, seperti nama rekening yang didebit dan dikredit, serta penjelasan ringkas tentang transaksi yang bersangkutan.
    Misalnya; transaksi pengeluaran kas untuk pembayaran upah karyawan, maka kolom keterangan akan diisi sbb:
    Biaya Tenaga Kerja XXX
    Kas XXX
    Pembayarna upah minggu ke-2 Juni 19X1
    c). Kolom Nomor Bukti
    Kolom ini digunakan untuk mencatat nomor formulir (dokumen sumber) yang dipakai sebagai dasar pencatatan data dalam jurnla tersebut.
    d). Kolom Nomor Rekening
    Diisi dengan nomor rekening yang didebit dan nomor rekening yang dikredit dengan adanya transaksi.
    e). Kode Debit dan Kredit
    Kode ini diisi dengan jumlah rupiah transaksi. Jumlah-jumlah rupiah adlam kolom ini diringkas (dijumlahkan) menurut nomor rekening yang tercantum dalam kolom nomor rekening.

    2. Jurnal Khusus
    Jika suatu perusahaan bertambah besar dan jenis transaksi menjadi lebih banyak, jurnal umum tersebut menjadi tidak mampu lagi menampung berbagai transaksi yang timbul, yang frekuensi terjadinya transaksi semakin tinggi.
    Dalam hal ini mulai diperlukan jurnal khusus, selain jurnal umum tersebut, dan dibutuhkan lebih banyak karyawan untuk menyelenggarakan berbagai jurnal khusus tersebut.
    Timbul pertanyaan, mengapa jurnal umum harus dipecah ? Ada berbagai alasan mengapa jurnal umum perlu dipecah:
    a). Untuk mengumpulkan dan menggolongkan transaksi yang sama yang frekuensi
    terjadinya tinggi
    b). Untuk mengurangi pekerjaanpembukuan ke dalam buku besar dan untuk
    menggolongkan transaksi yang dicari.
    c). Untuk memungkinkan pengerjaan pencatatan transaksi ke dalam jurnal dilakukan
    oleh beberapa orang.
    d). Untuk menciptakan pengendalian intern.

    JENIS JURNAL KHUSUS
    Jenis jurnal yang biasanya terdapat dalam perusahaan yang relatif besar adalah sbb:
    1. Jurnal Penjualan
    2. Jurnal Pembelian
    3. Jurnal Penerimaan Kas
    4. Jurnal Pengeluaran Kas
    5. Jurnal Umum

    1). Jurnal khusus Penjualan
    Digunakan untuk mencatat transaksi penjualan, baik penjualan kredit maupun penjualan tunai.
    Dari jurnal penjualan ini, manajemen akan dapat memperoleh informasi mengenai semua jenis transaksi penjualan selama periode tertentu, urut secara kronologi.
    2). Jurnal khusus Pembelian
    Digunakan untuk mencatat transaksi pembelian kredit.
    Transaksi pembelian tunai dicatat dalam jurnal pengeluaran kas.
    3). Jurnal khusus Penerimaan Kas
    Digunakan untuk mencatat transaksi penerimaan kas.
    Sumber pokok penerimaan kas perusahaan umumnya dari penjualan tunai dan penerimaan piutang.
    Jika frekuensi transaksi kas masih rendah, jurnal penerimaan kas ini digabungkan dengan jurnal pengeluaran kas dalam satujurnal yang disebut jurnal kas.
    4). Jurnal khusus Pengeluaran Kas
    Jurnal pengeluaran kas digunakan untuk mencatat transaksi pengeluaran kas.
    5). Jurnal khusus Umum
    Digunakan untuk mencatat transaksi selain yang dicatat dalam jurnal khusus.
    Pada umumnya jurnal umum berbentuk jurnal dua kolom (artinya kolom rupiah hanya terdiri dari 2 kolom) yaitu; kolom debit dan kolom kredit. Seperti contoh dibawah ini.
    Hal ini dibuat demikian karena transaksi yang dicatat dalam jurnal umum sangat bervariasi, dengan frekuensi kejadian yang rendah.

    LANGKAH PERANCANGAN JURNAL

    Berikut ini adalah langkah-langkah yang biasa ditempuh oleh ahli sistem dalam merancang jurnal:
    1. Studi terhadap Karakteristik Transaksi Perusahaan
    Percangan jurnal dimulai dari studi terhadap karakteristik transaksi yang dilaksanakan oleh perusahaan.
    2. Pembuatan Jurnal Standar
    Setelah transaksi yang berfrekuensi tinggi diidentifikasi, langkahselanjutnay adalah memperlajari ciri khas transaksi tersebut untuk dapat menentukan rekening-rekening buku besar yang terkait dalam pencatan transaksi tersebut. Atas dasar ini dibuat jurnal standar untuk mencatat transaksi-transaksi yang berfrekuensi tinggi.
    3. Percanangan Jurnal
    Jurnal standar kemudian dipakai sebagai dasar untuk menentukan kolom-kolom yang harus dicantumkan dalam jurnal khusus.
    Contoh:
    Jurnal:
    Bahan dalam proses XXX
    Biaya overhead pabrik XXX
    Biay administrasi & umum XXX
    Biaya pemasaran XXX
    Persediaan bahan XXX

    Buku Besar Akuntansi
    28 Mar 2014 Dasar-Dasar Akuntansi No Comments
    Buku Besar Akuntansi Secara Garis Besar
    Pengertian Buku Besar
    Buku besar adalah buku yang memuat kumpulan perkiraan-perkiraan yang saling berhubungan serta mengikhtisarkan pengaruh transaksi terhadap perubahan aktiva, kewajiban dan modal perusahaan. Banyaknya perkiraan buku besar yang dibutuhkan oleh perusahaan berbeda-beda, tergantung kepada keuangan dan kekayaan perusahaan, volume transaksi, serta informasi yang diinginkan. Dalam suatu proses pembukuan, setelah pencatatan transaksi ke dalam jurnal umum, selanjutnya transaksi tersebut di catat ke dalam buku besar yaitu dengan cara memindahbukukan jumlah-jumlah yang ada pada jurnal ke dalam buku besar yang sesuai, kegiatan pembukuan ini dinamakan memposting.
    Jenis Buku Besar
    1. Buku Besar Umum (General Ledger): Buku Besar Umum sering disebut juga buku besar induk, yaitu semua perkiraan yang ada dalam suatu periode tertentu seperti kas, piutang usaha, persediaan utang usaha dan modal. Perkiraan-perkiraan ini saling berdiri sendiri dan berfungsi mengikhtisarkan pengaruh transaksi terhadap perubahan aktiva, kewajiban dan modal perusahaan. Sistem Buku Besar Umum menampilkan proses transaksi untuk Buku Besar Umum dan Siklus Pelaporan Keuangan.
    Tujuan Buku Besar Umum (General Ledger):
    1. Mencatat semua transaksi akuntansi secara akurat dan benar.
    2. Memposting transaksi-transaksi ke akun yang tepat.
    3. Menjaga keseimbangan debet dan kredit pada akun.
    4. Mengakomodasi entry jurnal penyesuaian yang dibutuhkan.
    5. Menghasilkan laporan keuangan yang dapat dipercaya dan tepat waktu untuk setiap periode akuntansi
    Fungsi Buku Besar Umum (General Ledger):
    1. Mengumpulkan data transaksi
    2. Mengklasifikasikan dan mengkodekan data transaksi dan akun
    3. Memvalidasi transaksi yang terkumpul
    4. Meng-update-kan Akun Buku Besar Umum dan File Transaksi
    5. Mencatatkan penyesuaian terhadap Akun
    6. Mempersiapkan Laporan Keuangan
    2. Buku Besar Pembantu (Subsidiary Ledger): sering disebut juga buku tambahan, yaitu sekelompok rekening yang khusus mencatat perincian piutang usaha dan utang usaha yang berfungsi member informasi yang lebih mendetail. Pada umumnya, Pembuatan Buku Pembantu adalah untuk pengendalian akuntansi yang banyak elemennya, seperti Hutang, Piutang, dan Persediaan.
    Buku Besar Pembantu terbagi menjadi 2 yaitu :
    a. Buku Besar Pembantu Piutang Usaha sering disebut juga buku piutang yang disediakan khusus untuk merinci langganan kredit, kepada siapa sajakah perusahaan melakukan transaksi penjualan kredit, dimanakah alamatnya dan berapakah jumlahnya. Dalam buku piutang, keadaan tagihan kepada tiap langganan dicatat dalam daftar-daftar tersendiri. Perubahan piutang dagang secara keseluruhan dicatat pada perkiraan piutang dagang di buku besar umum, sebagai perkiraan induk. Sedangkan perubahan kepada masing-masing langganan dicatat pada perkiraan masing-masing dalam perkiraan buku besar pembantu piutang.
    b. Buku Besar Pembantu Utang sering disebut juga buku utang. Buku ini disediakan khusus untuk mencatat masing-masing pemasok secara terperinci yang banyaknya ditentukan oleh banyaknya pemasok yang memberikan pinjaman kredit, baik berupa barang dagangan maupun aktiva lainnya. Seperti halnya dalam buku piutang, dalam buku utangpun keadaan utang pada setiap pemasok dicatat dalam daftar-daftar tersendiri. Perubahan utang secara keseluruhan dicatat pada perkiraan utang dagang dalam buku besar umum. Sedangkan perubahan kepada masing-masing pemasok, dicatat pada perkiraan masing-masing dalam buku besar pembantu.
    Pengunaan buku besar pembantu mempunyai beberapa kelebihan sebagai berikut:
    1. Memudahkan penyusunan laporan keuangan, karena buku besar umum terdiri dari akun-akun yang jumlahnya lebih sedikit. Hal ini juga akan mengurangi kesalahan-kesalahan dalam buku besar umum.
    2. Ketelitian dalam pembukuan dapat diuji dengan membanding-kan saldo dalam akun buku besar umum dengan jumlah saldo-saldo dalam buku pembantu.
    3. Dapat diadakan pembagian tugas dalam pengrjaan akuntansi.
    4, Memungkinkan pumbukuan harian dari bukti-bukti pendukung transaksi kedalam buku pembantu.
    5. Bisa segera diketahui jumlah macam-macam elemen

    DAFTAR PUSTAKA
    http://sistem-akuntansi1000.blogspot.co.id/2009/10/j-u-r-n-l.html
    http://butuhakuntan.com/buku-besar-akuntansi.htm

  16. Hary Taufik says:

    CATATAN AKUNTANSI

    Menurut Mulyadi (2008: 218) catatan akuntansi yang digunakan adalah :
    1. Jurnal Penjualan
    Jurnal penjualan digunakan untuk mencatat transaksi penjualan baik penjualan tunai maupun kredit.
    2. Kartu Piutang
    Catatan akuntansi ini merupakan buku pembantu yang berisi mutasi piutang perusahaan kepada tiap debiturnya.
    3. Kartu Persediaan
    Catatan akuntansi ini merupakan buku pembantu yang berisi rincian mutasi setiap jenis persediaan.
    4. Kartu Gudang
    Catatan akuntansi ini diselenggarakan oleh fungsi gudang untuk mencatat mutasi dan persediaan fisik barang yang ada di gudang.
    5. Jurnal Umum
    Jurnal ini digunakan untuk mencatat harga pokok produk yang dijual selama periode tertentu.

    #JURNAL
    Jurnal adalah alat untuk mencatat transaksi-transaksi yang terjadi diperusahaan yang dilakukan secara kronologis (berdasarkan urut waktu terjadinya) dengan menunjukan rekening yang harus didebet dan dikredit beserta jumlah rupiahnya masing-masing.
    Menurut Dr. Erhans dan Junaedi Yusuf (2000:76)
    Jurnal yaitu formulir yang digunakan untuk mencatat dan mengelompokkan transaksi secara kronologis. Adapun proses pencatatan dapat digambarkan sebagai berikut:
    Transaksi yang terjadi >> Surat bukti pembukuan >> Jurnal >> Perkiraan >> Neraca saldo
    JURNAL (Journal) adalah catatan akuntansi permanen yang pertama (book of original entry), yang digunakan untuk mencatat transaksi keuangan perusahaan secara kronologis dengan menyebutkan akun yang di Debet maupun yang di Kredit.
    Fungsi jurnal meliputi :
    1. Fungsi historis, yaitu jurnal merupakan kegiatan mencatat semua transaksi keuangan secara kronologis atau berurutan sesuai dengan tanggal terjadinya.
    2. Fungsi mencatat, yaitu jurnal merupakan pencatatan yang lengkap terperinci, artinya semua transaksi dengan sumbernya harus dicatat tanpa ada yang ketinggalan.
    3. Fungsi analisis, yaitu jurnal menganalisis transaksi untuk menentukan akun yang harus di Debet maaupun yang di Kredit.
    4. Fungsi instruktif, yaitu jurnal merupakan perintah memposting dalam buku besar baik yang di Debet maupun yang di Kredit sesuai hasil analisis dalam jurnal.
    5. Fungsi informatif, yaitu jurnal memberikan keterangan kegiatan perusahaan secara jelas.

    Jurnal sangat penting dalam suatu sistem akuntansi karena adanya beberapa karakteristik berikut,
    a. Jurnal merupakan pencatatan akuntansi permanen pertama yang digunakan untuk mencatat transaksi keuangan perusahaan.
    b. Pencatatan dalam jurnal biasanya lengkap dan terinci, serta menurut urutan tanggal kejadian transaksi.
    c. Jurnal harus dirancang sedemikian rupa karena jurnal merupakan catatan akuntansi yang pertama, sehingga tidak boleh terjadi satu transaksi pun yang tidak dicatat.
    d. Catatan yang dilakukan di dalam jurnal biasanya lengkap dengan penfjelasan, tanggal, dan informasi lain, karena akan digunakan untuk mengusut kembali ke dokumen sumbernya (formulir).
    Jika transaksi perusahaan masih sedikit, jurnal umum sudah cukup memadai. Namun, jika transaksi sudah mulai banyak, maka dibutuhkan tambahan yang biasa disebut jurnal khusus, yang mana diperlukan karena:
    – Untuk mengumpulkan dan menggolongkan transaksi yang sama yang frekuensinya terjadinya tinggi.
    – Untuk mengurangi pekerjaan pembukuan ke dalam buku besar dan untuk menggolongkan transaksi yang dicatat.
    – Untuk memungkinkan pengerjaan pencatatan transaksi ke dalam jurnal dilakukan oleh beberapa orang.
    – Untuk menciptakan pengawasan intern.
    Adapun prinsip-prinsip yang melandasi perancangan jurnal :
    1. Harus tersedia jurnal dalam jumlah yang cukup memadai sehingga memungkinkan perusahaan untuk menggunakan karyawan dalam mencatat dengan segera transaksi keuangan yang terjadi.
    2. Jurnal akan digunakan untuk memisahkan transaksi ke dalam penggolongan pokok tertentu, seperti penerimaan kas, pengeluaran kas, penjualan dan pembelian.
    3. Untuk mengurangi pekerjaan pembukuan yang terinci harus digunakan kolom-kolom khusus dalam jurnal, sehingga memungkinkan pembukuan (posting) jumlah per kolom ke dalam rekening yang bersangkutan di dalam buku besar.
    4. Nama kolom dalam jurnal harus sesuai dengan nama rekening yang bersangkutan dalam buku besar, yang akan menerima jumlah yang akan dibukukan dari jurnal.
    5. Kolom-kolom dalam jurnal digunakan untuk mengumpulkan angka yang akan diringkas dalam rekening yang bersangkutan dalam buku besar.
    6. Sedapat mungkin jurnal harus dirancang sedemikian rupa sehingga pekerjaan menyalin informasi dari dokumen sumbernya dibuat sangat minimum.
    7. Harus ditetapkan hubungan antara dokumen sumber tertentu dengan jurnal sehingga pertanggungjawaban kebenaran informasi dapat ditentukan.

    # BUKU BESAR
    Menurut Gito Brahmana,
    Buku besar (Ledger) adalah kumpulan akun-akun yang digunakan untuk meringkas transaksi yang telah dicatat dalam jurnal. Buku besar juga dapat diartikan tahapan catatan terakhir dalam akuntansi (book of final entry) yang menampung ringkasan data yang sudah dikelompokan atau diklasifikasikan yang berasal dari jurnal.
    Menurut SunFish ERP,
    Buku Besar adalah pusat dari pencatatan perusahaan dari semua transaksi yang muncul. Terbentuk melalui penempatan transaksi dari jurnal umum yang merupakan ringkasan dari semua jurnal pembantu dan penelusuran history.

    Dalam akuntansi, bagan akun standar adalah daftar nomor akun yang terdiri dari buku besar perusahaan. Bagan rekening perusahaan pada dasarnya merupakan sistem pengarsipan untuk mengelompokkan semua account sebuah perusahaan dan mengelompokkan semua transaksi sesuai dengan account mereka mempengaruhi. Bagan rekening daftar kategori mungkin termasuk aktiva, kewajiban, ekuitas pemilik, pendapatan, harga pokok penjualan, biaya operasi, dan akun lain yang relevan.
    Sebuah bagan akun standar diatur sesuai dengan sistem numerik. Setiap kategori utama akan dimulai dengan nomor tertentu, dan kemudian di sub-kategori dalam kategori besar semua akan dimulai dengan nomor yang sama. Sebagai contoh, jika aktiva tersebut diklasifikasikan dengan nomor yang dimulai dengan 1 digit, maka rekening kas mungkin diberi label 101, piutang mungkin diberi label 102, persediaan mungkin diberi label 103, dan seterusnya. Dan jika account kewajiban diklasifikasikan berdasarkan nomor yang dimulai dengan 2 digit, maka hutang akan diberi label 201, utang jangka pendek mungkin akan diberi label 202, dan seterusnya.

    Tergantung pada ukuran perusahaan, bagan rekening mungkin termasuk rekening beberapa lusin atau mungkin meliputi beberapa ribu rekening. Tergantung pada kecanggihan dari perusahaan, bagan akun dapat kertas-based atau berbasis komputer. Bagan akun berguna untuk menganalisis transaksi masa lalu dan menggunakan data historis untuk memperkirakan tren masa depan.

    Prinsip dasar yang harus dijunjung oleh semua aturan prinsip-prinsip ini meliputi konsistensi, relevansi, reliabilitas, dan komparatif.

    Sumber:

    http://id.shvoong.com/writing-and-speaking/presenting/2135436-catatan-akuntansi-yang-digunakan/
    Yusuf, Junaedi & Dr. Erhans A. 2000. Akuntansi Berdasarkan Prinsip Akuntansi Indonesia. Jakarta: PT. Ercontara Rajawali
    S. Purnomo, Budi. 2006. Accounting Principles I. Sumedang: Pusat Pelayanan dan Pengembangan Ekonomi (P3E)
    http://milamashuri.wordpress.com/jurnal-umum/
    http://blog.re.or.id/jurnal.htm
    http://www.elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/soal…1/bagian3_jurnal.pdf
    http://milamashuri.wordpress.com/buku-besar/
    http://www.dataon.com/library/files/ERP-GL_ID.pdf
    http://goongbusiness.com/in/article-bebas/169-membuat-bagan-akun-chart-of-account.html

  17. 1400099 / Arizal Zul Lathiif / 2014-A / SIA-3

    CATATAN AKUNTANSI

    Pengertian Jurnal akuntansi adalah catatan rinci tentang transaksi keuangan bisnis. Transaksi yang tercantum dalam urutan kronologis, dengan jumlah, dengan account yang terpengaruh, dan ke arah akun yang terpengaruh. Tergantung pada ukuran dan kompleksitas usaha, nomor referensi dapat diberikan ke setiap transaksi dan catatan dapat menempel menjelaskan transaksi.
    Setiap transaksi yang tercantum disebut sebagai jurnal . Informasi dari jurnal ini kemudian dicatat dalam buku besar .

    Tujuan Entri Jurnal Akuntansi
    Jurnal memberikan informasi dasar untuk semua laporan keuangan dan digunakan oleh auditor untuk menganalisis bagaimana efek transaksi keuangan terhadap bisnis.
    Jurnal dimasukkan ke akun tertentu dengan menggunakan Daftar Pembukuan ( chart of accounts ) , dan ayat jurnal tersebut kemudian dicatat dalam buku besar.

    Sekarang mari kita bahas Jurnal Khusus. Jurnal khusus adalah jurnal yang digunakan untuk mencatat transaksi-transaksi yang terjadi secara berulang-ulang. Jurnal khusus terdiri dari 5 macam yaitu :
    1. Jurnal Pembelian
    2. Jurnal Pengeluaran Kas
    3. Jurnal Penjualan
    4. Jurnal Penerimaan Kas
    5. Jurnal Umum

    Adapun fungsi dari Jurnal Khusus, diantaranya:
    1. Meringankan pekerjaan karena mudah ketika di Posting ke Buku Besar,
    2. Memungkinkan dilakukannya pembagian kerja,
    3. Mengghemat biaya dan tenaga dan
    4. Pengendalian Internal bisa dilaksanaknakan dengan baik.

    Pengertian Buku Besar sesuai ilmu akuntansi
    Buku besar dalam ilmu akuntansi diartikan sebagai sebuah buku yang memuat kumpulan akun atau kumpulan rekening yang sumbernya dari seluruh bukti transaksi keuangan yang sudah tercatat dalam buku jurnal baik jurnal umum maupun jurnal khusus. Sebagaimana yang tercantum dalam pengertian diatas kita dapat ambil poin penting diantaranya bahwa input buku besar adalah akun-akun yang telah dicatat dalam jurnal umum (jika dalam perusahaan jasa) atau jurnal khusus (jika dalam perusahaan dagang). Poin yang kedua bahwa dalam buku besar isinya adalah nama-nama akun beserta saldonya yang terdapat diperusahaan tersebut. Poin yang ketiga bahwa buku besar dapat disusun setelah jurnal umum atau jurnal khusus disusun, hal ini karena sumber penyusunan buku besar adalah jurnal. Nahh kiranya dengan penjabaran ketiga poin diatas anda dapat mengerti tentang apa itu buku besar, sekarang kita bahas manfaat penyusunan buku besar.

    Manfaat Penyusunan Buku Besar
    Sebenarnya apa manfaat buku besar? Mengapa buku besar harus disusun?.. inilah yang akan diuraikan. Buku besar memiliki beberapa manfaat diantaranya adalah: Buku besar dapat mempermudah dalam pemberian informasi kepada pihak tertentu misalnya pimpinan perusahaan. Contohnya ketika pemimpin perusahaan bertanya berapa saldo kas sekarang? Maka karyawan dapat menjawabnya dengan pasti setelah melihat buku besar. Kegunaan buku besar yang lainnya adalah menjadi sumber penyusunan neraca saldo pada periode tertentu. Setelah mengetahui pengertian dan manfaat buku besar maka selanjutnya perlu juga mengetahui format buku besar, silahkan lihat uraian berikut ini.

    Jenis Buku Besar
    1. Buku Besar Umum (General Ledger): Buku Besar Umum sering disebut juga buku besar induk, yaitu semua perkiraan yang ada dalam suatu periode tertentu seperti kas, piutang usaha, persediaan utang usaha dan modal. Perkiraan-perkiraan ini saling berdiri sendiri dan berfungsi mengikhtisarkan pengaruh transaksi terhadap perubahan aktiva, kewajiban dan modal perusahaan. Sistem Buku Besar Umum menampilkan proses transaksi untuk Buku Besar Umum dan Siklus Pelaporan Keuangan.
    Tujuan Buku Besar Umum (General Ledger):
    1. Mencatat semua transaksi akuntansi secara akurat dan benar.
    2. Memposting transaksi-transaksi ke akun yang tepat.
    3. Menjaga keseimbangan debet dan kredit pada akun.
    4. Mengakomodasi entry jurnal penyesuaian yang dibutuhkan.
    5. Menghasilkan laporan keuangan yang dapat dipercaya dan tepat waktu untuk setiap periode akuntansi
    Fungsi Buku Besar Umum (General Ledger):
    1. Mengumpulkan data transaksi
    2. Mengklasifikasikan dan mengkodekan data transaksi dan akun
    3. Memvalidasi transaksi yang terkumpul
    4. Meng-update-kan Akun Buku Besar Umum dan File Transaksi
    5. Mencatatkan penyesuaian terhadap Akun
    6. Mempersiapkan Laporan Keuangan

    Jenis Rekening :
    Rekening kontrol ialah rekening yang dapat digunakan untuk mengawasi saldo-saldo dalam buku pembantu. Rekening kontrol terdiri dari elemen utama akuntansi seperti Kas, Piutang, Aktiva tetap, Utang, Modal dll. Rekening kontrol adalah sebuah rekening ringkasan dalam buku besar umum.
    Tujuan dari rekening kontrol
    Tujuan dari rekening kontrol adalah untuk menjaga buku besar umum bebas dari rincian, namun memiliki keseimbangan yang benar untuk laporan keuangan. Sebagai contoh, akun Piutang pada buku besar umum bisa menjadi akun pengendali. Jika ada rekening kontrol, perusahaan hanya akan memperbarui rekening dengan jumlah sedikit, seperti total kumpulan untuk hari itu, total penjualan pada rekening untuk hari itu, total perolehan dan tunjangan untuk hari tersebut, dll.

    Metode Pemberian Kode Rekening :
    1. Kode angka atau alfabet urut / numerical or alphabetic – sequence code
    Dalam metode ini, rekening buku besar diberi kode angka atau huruf yang berurutan.
    Kelemahan metode ini adalah jika terjadi perluasan jumlah rekening, hal ini akan
    mengakibatkan perubahan menyeluruh terhadap kode rekening yang mempunyai kode
    angka yang lebih besar, contoh kode angka urut :
    1. Kas dan bank.
    2. Investasi sementara.
    3. Piutang.
    4. Cadangan kerugian piutang.
    5. Dll.
    Pemberian kode dengan kode angka urut mempunyai karakteristik
    1. rekening diberi kode dengan angka urut, dari angka kecil ke angka besar.
    2. Jumlah angka (digit) dalam kode tidak sama. Rekening dengan kode 1 sampai 9 memiliki 1 angka dalam kode rekeningnya, sedangkan rekening dengan kode 10 sampai dengan 99 memiliki 2 angka , sedangkan rekening dan kode 100 sampai 999 memiliki 3 angka dalam kode rekeningnya,dan seterusnya.
    3. Perluasan klasifikasi pada suatu rekening akan mengakibatkan perubahan kode semua rekening yang kodenya lebih besar dari kode rekening yang mengalami perluasan. Sebagai contoh, jika rekening 21 Beban yang ditangguhkan dalam daftar rekening diatas dirinci lebih lanjut menjadi 3 rekening : 21 Beban organisasi,22 Rugi Trial-Run,dan 23 Beban Promosi, maka rekening-rekening yang sebelumnya berkode diatas rekening yang dipecah tersebut (kode 22 dan selanjutnya) semuanya akan mengalami perubahan kode.
    2. Kode Angka Blok / block numerical code
    Dalam metode pemberian kode ini, rekening buku besar dikelompokkan menjadi beberapa golongan dan setiap golongan disediakan satu blok angka yang berurutan untuk memberi kodenya. Penggunaan Kode Angka Blok ini dapat mengatasi kelemahan Kode Angka urut, yang jika terjadi perluasan klasifikasi pada suatu rekening mengakibatkan perubahan kode semua rekening yang kodenya lebih besar dari kode rekening yang mengalami perluasan.
    Untuk menghadapi kemungkinan perluasaan rekening, dalam setiap blok angka disediakan angka cadangan perluasan,sehingga perluasaan kode rekening hanya akan mempengaruhi pemberian kode rekening dalam blok yang bersangkutan.
    Contoh Kode Angka Blok adalah sebagai berikut :
    Rekening buku besar digolongkan menjadi golongan dan setiap golongan disediakan satu blok angka yang berurutan :
    1-24 Aktiva Lancar 25-39 Investasi Jangka Panjang
    40-69 Aktiva Tetap Berwujud 70-79 Aktiva Tidak Berwujud
    80-99 Aktiva Lain-lain 100-124 Utang Lancar
    125-129 Utang Jangka Panjang 130-139 Modal
    140-169 Pendapatan Penjualan 170-199 Harga Pokok Penjualan
    200-299 Biaya Produksi 300-349 Biaya Administrasi dan Umum
    350-399 Biaya Pemasaran 400-449 Penghasil Di Luar Usaha
    450-499 Biaya Di Luar Usaha 500 Rugi – Laba
    Pemberian kode dengan Kode Angka Blok ini memiliki karakteristik sebagai berikut :
    1. Rekening diberi kode dengan blok angka yang berurutan, dari angka kecil ke angka besar.
    2. Jumlah angka (digit) dalam kode tidak sama. Rekening berkode angka dalam blok sampai dengan 9 memiliki 1 angka dalam kodenya. Dalam blok 10 sampai dengan 99 memiliki 2 angka dalam kodenya, dan yang dalam blok 100 sampai dengan 999 memiliki 3 angka dalam kodenya, dan seterusnya.
    3. Perusahaan klasifikasi pada suatu rekening ditampung dengan menyediakan angka cadangan dalam setiap blok yang diperkirakan akan mengalami perluasan klasifikasi. Sebagai contoh, untuk klasifikasi rekening Utang Jangka Panjang disediakan angka 125 sampai dengan 129, karena diperkirakan jumlah rekening yang termasuk dalam klasifikasi ini tidak akan lebih dari 5 rekening, Untuk sementara baru 3 angka yang dipakai untuk memberi kode , yaitu angka 125,126, dan 127 Angka 128 dan 129 disediakan untuk menampung perluasan klasifikasi utang jangka panjang, yang diperkirakan oleh analisis sistemnya tidak lebih dari 2 rekening tambahan. Jika misalnya analisis sistem memperkirakan kemungkinan tambahan rekening akibat perluasan klasifikasi utang jangka panjang berjumlah 10 rekening, maka blok angka yang disediakan untuk klasifikasi utang jangka panjang adalah 125 sampai dengan 139, bukan hanya 125 sampai dengan 129.

    1. Kode Angka Kelompok / Group Numerical Code
    Terbentuk dari dua atau lebih subcodes yang dikombinasikan menjadi satu kode. Kode Angka Kelompok ini mempunyai Karakteristik sebagai berikut :
    1. Rekening diberi Kode angka atau kombinasi angka dan huruf.
    2. Jumlah angka dan /atau huruf dalam kode mempunyai arti tertentu.
    3. Posisi angka dan /atau huruf dalam kode mempunyai arti tertentu.
    4. Perluasan Klasifikasi dilakukan dengan memberi cadangan angka dan / atau huruf ke kanan.
    Sebagai contoh adalah pemakaian Kode Angka Kelompok untuk memberi kode rekening biaya guna menghasilkan informasi biaya yang menggambarkan :
    1. Hubungan biaya dengan pusat pertanggungjawaban dalam perusahaan , yang dibagi menurut hirarkhi berikut ini : Direksi, Departemen, Bagian
    2. Jenis Biaya
    Berdasarkan data tersebut di atas dapat ditentukan bahwa jumlah angka dalam kode adalah 5, dengan rincian 3 angka pertama untuk menunjukkan hubungan biaya dengan struktur organisasi (ada 3 jenjang organisasi), dan 2 angka sisanya untuk menunjukkan jenis biaya (karena jumlah jenis biaya diperkirakan tidak akan lebih dari 100, sehingga hanya diperlukan 2 angka saja).
    Rincian jenis biaya beserta kodenya adalah sebagai berikut :
    01 Biaya bahan baku
    02 Biaya bahan penolong
    03 Biaya bahan bakar
    04 Biaya suku cadang
    05 Biaya upah
    06 Biaya kesejahteraan karyawan
    07 Biaya asuransi tenaga kerja
    08 Biaya reparasi dan pemeliharaan aktiva tetap
    09 Biaya depresiasi aktiva tetap
    10 Biaya asuransi aktiva tetap
    11 Biaya akuntan dan konsultan
    12 Biaya iklan
    13 Biaya pembungkus
    14 Biaya telepon dan telegraf
    15 Biaya lain-lain
    Berdasarkan kode tersebut di atas, biaya asuransi tenaga kerja yang dikeluarkan oleh Bagian Pulp diberi kode 21107.
    Biaya bahan bakar yang dikonsumsi oleh Bagian Listrik dan Air dicatat dalam rekening yang berkode 22203.
    4. Kode Angka Desimal / Decimal Code
    Desimal berarti persepuluhan. Kode Angka Desimal memberi kode angka terhadap klasifikasi yang membagi kelompok menjadi maksimum 10 sub kelompok dan membagi subkelompo menjadi maksimum 10 golongan yang lebih kecil dari subkelompok tersebut. Sebagai contoh adalah sebagai berikut :
    I. Persediaan
    1. Persediaan Suku Cadang
    2 Persediaan Bahan Penolong
    3 Persediaan Bahan Baku
    4. Persediaan Lain-Lain
    Pemberian kode dengan Kode Angka Desimal ini memiliki karakteristik sebagai berikut :
    a. Rekening diberi dengan angka yang berurutan, dari angka kecil ke angka besar.
    b. Jumlah angka (digit) dalam kode tidak sama. Klasifikasi besar memiliki jumlah angka yang lebih sedikit bila dibandingkan dengan klasifikasi rinciannya.
    c. Perluasan klasifikasi pada suatu rekening dilakukan dengan maksimum pemecahan tidak lebih dari 10. Pemberian kode perluasannya dilakukan dengan menambahkan 1 angka di sebelah kanannya.
    5. Kode Angka urut Didahului dengan Huruf
    Metode ini menggunakan kode berupa kombinasi angka dan Huruf. Setiap rekening diberi kode angka yang di mukanya dicantumkan huruf singkatan kelompok rekening tersebut. Misalnya : AL 101, ATL 112, MO 245
    AL merupakan singkatan dari aktiva lancar, ATL singkatan aktiva tidak lancar , dan MO singkatan dari modal.
    3 Hal yang Perlu Dipertimbangkan dalam Merancang Kode Rekening
    Dalam merancang kerangka kode rekening, berbagai pertimbangan berikut ini perlu diperhitungkan :
    1. Rerangka kode harus sesuai logis memenuhi kebutuhan pemakai dan metode pengolahan data yang digunakan. Kode sembarang , seperti SSR untuk menunjukkan Sempati Air dalam kode penerbangan, membingungkan para penumpang pesawat.
    2. Setiap kode harus mewakili secara unik unsur yang diberi kode. Kode untuk rekening piutang kepada Risa Rimendi harus hanya menunjukkan rekening debitur tersebut, bukan debitur yang lain.
    3. Desain kode harus mudah disesuaikan dengan tuntutan perubahan. Jika struktur kode harus diubah setiap kali menghadapi tuntutan perubahan, hal ini akan memerlukan biaya perubahan dan membingungkan pemakai

    DAFTAR PUSTAKA
    Setiawati,Lilies. Diana, Anastasia. (2010). Sistem Informasi Skuntansi. Yogjakarta :ANDI
    Hall.James a. (2001). System Informasi Akuntansi. Jakarta: PT .Selemba Emban Patris
    Setiadewi, Kristianti. (2014). Rekening Kontrol Dan Catatan Piutang. [Online]. Tersedia:http://kriztalyzed.blogspot.co.id/2014/10/rekening-kontrol-dan-catatan-piutang.html [2 Maret 2016]
    Anonymous. (2015). Pengertian, Manfaat, dan Bentuk Buku Besar. [Online]. Tersedia:http://operaterpm.blogspot.co.id/2015/09/pengertian-manfaat-dan-bentuk-buku.html [2 Maret 2016]
    Anonymous. (2012). Pengertian Jurnal Akuntansi. [Online]. Tersedia:http://jurnal-akuntansi.blogspot.co.id/2012/06/definisi-jurnal-akuntansi.html [2 Maret 2016]
    Kusumawati, Riani. (2013). Jurnal Khusus. [Online]. Tersedia:https://riyanikusuma.wordpress.com/2013/02/08/jurnal-khusus/ [2 Maret 2016]

  18. Silvi Aulia Darus says:

    1401726/SILVI AULIA DARUS/2014-A/SIA-3

    CATATAN AKUNTANSI

    Menurut Mulyadi (2008: 218) catatan akuntansi yang digunakan adalah :
    1. Jurnal Penjualan
    Jurnal penjualan digunakan untuk mencatat transaksi penjualan baik penjualan tunai maupun kredit.
    2. Kartu Piutang
    Catatan akuntansi ini merupakan buku pembantu yang berisi mutasi piutang perusahaan kepada tiap debiturnya.
    3. Kartu Persediaan
    Catatan akuntansi ini merupakan buku pembantu yang berisi rincian mutasi setiap jenis persediaan.
    4. Kartu Gudang
    Catatan akuntansi ini diselenggarakan oleh fungsi gudang untuk mencatat mutasi dan persediaan fisik barang yang ada di gudang.
    5. Jurnal Umum
    Jurnal ini digunakan untuk mencatat harga pokok produk yang dijual selama periode tertentu.

    JURNAL

    Jurnal adalah alat untuk mencatat transaksi-transaksi yang terjadi diperusahaan yang dilakukan secara kronologis (berdasarkan urut waktu terjadinya) dengan menunjukan rekening yang harus didebet dan dikredit beserta jumlah rupiahnya masing-masing.
    Menurut Dr. Erhans dan Junaedi Yusuf (2000:76), mengatakan bahwa Jurnal yaitu formulir yang digunakan untuk mencatat dan mengelompokkan transaksi secara kronologis. Adapun proses pencatatan dapat digambarkan sebagai berikut:
    Transaksi yang terjadi > Surat bukti pembukuan > Jurnal > Perkiraan > Neraca saldo
    JURNAL (Journal) adalah catatan akuntansi permanen yang pertama (book of original entry), yang digunakan untuk mencatat transaksi keuangan perusahaan secara kronologis dengan menyebutkan akun yang di Debet maupun yang di Kredit.

    Fungsi jurnal meliputi :

    1. Fungsi historis, yaitu jurnal merupakan kegiatan mencatat semua transaksi keuangan secara kronologis atau berurutan sesuai dengan tanggal terjadinya.
    2. Fungsi mencatat, yaitu jurnal merupakan pencatatan yang lengkap terperinci, artinya semua transaksi dengan sumbernya harus dicatat tanpa ada yang ketinggalan.
    3. Fungsi analisis, yaitu jurnal menganalisis transaksi untuk menentukan akun yang harus di Debet maaupun yang di Kredit.
    4. Fungsi instruktif, yaitu jurnal merupakan perintah memposting dalam buku besar baik yang di Debet maupun yang di Kredit sesuai hasil analisis dalam jurnal.
    5. Fungsi informatif, yaitu jurnal memberikan keterangan kegiatan perusahaan secara jelas.
    Jurnal sangat penting dalam suatu sistem akuntansi karena adanya beberapa karakteristik berikut,
    a. Jurnal merupakan pencatatan akuntansi permanen pertama yang digunakan untuk mencatat transaksi keuangan perusahaan.
    b. Pencatatan dalam jurnal biasanya lengkap dan terinci, serta menurut urutan tanggal kejadian transaksi.
    c. Jurnal harus dirancang sedemikian rupa karena jurnal merupakan catatan akuntansi yang pertama, sehingga tidak boleh terjadi satu transaksi pun yang tidak dicatat.
    d. Catatan yang dilakukan di dalam jurnal biasanya lengkap dengan penfjelasan, tanggal, dan informasi lain, karena akan digunakan untuk mengusut kembali ke dokumen sumbernya (formulir).
    Jika transaksi perusahaan masih sedikit, jurnal umum sudah cukup memadai. Namun, jika transaksi sudah mulai banyak, maka dibutuhkan tambahan yang biasa disebut jurnal khusus, yang mana diperlukan karena:
    – Untuk mengumpulkan dan menggolongkan transaksi yang sama yang frekuensinya terjadinya tinggi.
    – Untuk mengurangi pekerjaan pembukuan ke dalam buku besar dan untuk menggolongkan transaksi yang dicatat.
    – Untuk memungkinkan pengerjaan pencatatan transaksi ke dalam jurnal dilakukan oleh beberapa orang.
    – Untuk menciptakan pengawasan intern.

    Adapun prinsip-prinsip yang melandasi perancangan jurnal :
    1. Harus tersedia jurnal dalam jumlah yang cukup memadai sehingga memungkinkan perusahaan untuk menggunakan karyawan dalam mencatat dengan segera transaksi keuangan yang terjadi.
    2. Jurnal akan digunakan untuk memisahkan transaksi ke dalam penggolongan pokok tertentu, seperti penerimaan kas, pengeluaran kas, penjualan dan pembelian.
    3. Untuk mengurangi pekerjaan pembukuan yang terinci harus digunakan kolom-kolom khusus dalam jurnal, sehingga memungkinkan pembukuan (posting) jumlah per kolom ke dalam rekening yang bersangkutan di dalam buku besar.
    4. Nama kolom dalam jurnal harus sesuai dengan nama rekening yang bersangkutan dalam buku besar, yang akan menerima jumlah yang akan dibukukan dari jurnal.
    5. Kolom-kolom dalam jurnal digunakan untuk mengumpulkan angka yang akan diringkas dalam rekening yang bersangkutan dalam buku besar.
    6. Sedapat mungkin jurnal harus dirancang sedemikian rupa sehingga pekerjaan menyalin informasi dari dokumen sumbernya dibuat sangat minimum.
    7. Harus ditetapkan hubungan antara dokumen sumber tertentu dengan jurnal sehingga pertanggungjawaban kebenaran informasi dapat ditentukan.

    BUKU BESAR

    Menurut Gito Brahmana, Buku besar (Ledger) adalah kumpulan akun-akun yang digunakan untuk meringkas transaksi yang telah dicatat dalam jurnal. Buku besar juga dapat diartikan tahapan catatan terakhir dalam akuntansi (book of final entry) yang menampung ringkasan data yang sudah dikelompokan atau diklasifikasikan yang berasal dari jurnal.
    Menurut SunFish ERP, Buku Besar adalah pusat dari pencatatan perusahaan dari semua transaksi yang muncul. Terbentuk melalui penempatan transaksi dari jurnal umum yang merupakan ringkasan dari semua jurnal pembantu dan penelusuran history.
    Dalam akuntansi, bagan akun standar adalah daftar nomor akun yang terdiri dari buku besar perusahaan. Bagan rekening perusahaan pada dasarnya merupakan sistem pengarsipan untuk mengelompokkan semua account sebuah perusahaan dan mengelompokkan semua transaksi sesuai dengan account mereka mempengaruhi. Bagan rekening daftar kategori mungkin termasuk aktiva, kewajiban, ekuitas pemilik, pendapatan, harga pokok penjualan, biaya operasi, dan akun lain yang relevan.
    Sebuah bagan akun standar diatur sesuai dengan sistem numerik. Setiap kategori utama akan dimulai dengan nomor tertentu, dan kemudian di sub-kategori dalam kategori besar semua akan dimulai dengan nomor yang sama. Sebagai contoh, jika aktiva tersebut diklasifikasikan dengan nomor yang dimulai dengan 1 digit, maka rekening kas mungkin diberi label 101, piutang mungkin diberi label 102, persediaan mungkin diberi label 103, dan seterusnya. Dan jika account kewajiban diklasifikasikan berdasarkan nomor yang dimulai dengan 2 digit, maka hutang akan diberi label 201, utang jangka pendek mungkin akan diberi label 202, dan seterusnya.
    Tergantung pada ukuran perusahaan, bagan rekening mungkin termasuk rekening beberapa lusin atau mungkin meliputi beberapa ribu rekening. Tergantung pada kecanggihan dari perusahaan, bagan akun dapat kertas-based atau berbasis komputer. Bagan akun berguna untuk menganalisis transaksi masa lalu dan menggunakan data historis untuk memperkirakan tren masa depan.
    Prinsip dasar yang harus dijunjung oleh semua aturan prinsip-prinsip ini meliputi konsistensi, relevansi, reliabilitas, dan komparatif.

    KARAKTERISTIK BUKU BESAR DAN BUKU PEMBANTU

    Buku besar (general ledger) merupakan kumpulan rekening-rekening neraca dan rugi laba yang digunakan untuk menyortir dan meringkas informasi yang telah dicatat dalam jurnal.
    Buku pembantu (subsidiary ledgers) adalah suatu cabang buku besar yang berisi rincian rekening tertentu yang ada dalam buku besar.
    Contoh: beberapa buku pembantu sbb:
    – Buku pembantu piutang
    – Buku pembantu persediaan bahan baku dan penolong
    – Buku pembantu mesin dan alat
    – Buku pembantu utang
    – Buku pembantu biaya overhead pabrik
    – Buku pembantu biaya administrasi dan umum
    – Buku pembantu biaya penjualan

    Rekening adalah judul suatu catatan akuntansi yang umumya berbentuk T, yang dibagi dua bagian, sebelah kiri disebut debit dan sebelan kanan disebut kredit, sebagai alat untuk mengklasifikasikan dan mencatat transaksi berdasar prinsip tata buku berpasangan (double entry bookeeping).

    Rekening kontrol
    Rekening buku besar yang rinciannya dibuat dalam buku pembantu disebut Rekening Kontrol yaitu; rekening yang dapat digunakan untuk mengawasi saldo-saldo dalam buku pembantu.
    Setiap akhir periode (misalnya bulanan) dapat dilakukan pengecekan dengan cara menjumlahkan saldo-saldo dalam buku pembantu dan membandingkannya dengan saldo dalam rekening kontrolnya.
    Posting adalah proses sortir dan pemindahan data dari buku jurnal kedalam buku besar dan buku pembantu disebut juga dengan pembukuan

    FORMULIR REKENING BUKU BESAR

    Di atas sudah disebutkan bahwa rekening buku besar umumnya berbentuk T, yang merupakan catatan akuntansi yang dibagi dua secara vertikal, sebelah kiri disebut debit dan sebelah kanan disebut kredit.
    Ada berbagai variasi bentuk formulir rekening buku besar:
    1. Rekening dengan debit lebar (wide debit ledger)
    2. Rekening biasa (regular ledger)
    3. Rekening berkolom saldo di tengah (center balance ledger)
    4. Rekening berkolom saldo (balance ledger)
    5. Rekening ganda berkolom saldo (doubel ledger with balance ledger)
    6. Rekening dengan saldo lama dan saldo baru (old and new balance ledger)

    1). Rekening dengan Debit dan Kredit Lebar
    Bentuk rekening ini menyediakan kolom “keterangan” pada sebelah debit lebih lebar bila dibandingkan dengan kolom “keterangan” pada sebelah kredit.
    Hal ini dilakukan karena penjelasan yang bersangkutan dengan transaksi pendebitan lebih banyak bila dibandingkan dengan penjelasan yang bersangkutan dengan traksaksi pengkreditan, dan jika penentuan saldonya perlu dilakukan secara periodik.

    2). Rekening Biasa
    Bentuk rekening ini sangat luas digunakan.
    Rekening ini mempunyai kolom “keterangan” yang sama lebar untuk sebelah debit maupun sebelah kredit.
    Umumnya rekening buku besar menggunakan bentuk rekening ini.
    Buku pembantu yang menggunakan bentuk rekening ini adalah buku pembantu piutang dan buku pembantu utang

    3). Rekening Berkolom Saldo di Tengah
    Bentuk rekening ini digunakan jika diperlukan informasi saldo rekening setiap saat, baik saldo debit maupun saldo kredit dan diperlukan penjelasan yang relatif sama banyaknya baik untuk transaksi pendebitan maupun transaksi pengkreditan.
    Kolom saldo diletakkan ditengah-tengah rekening.
    Rekening pembantu piutang dan utang umumnya menggunakan bentuk formulir seperti ini.

    4). Rekening Berkolom Saldo
    Bentuk rekening ini digunakan jika diperlukan penjelasan yang banyak, baik untuk transaksi pendebitan maupun transaksi pengkreditan, dan jika diperlukan informasi saldo berjalan setiap saat (maksudnya selalu di tampilkan jumlah nominal dalam saldo setiap terjadi transaksi).
    Untuk menunjukkan apakah saldo yang tercantum dalam kolom “saldo” merupakan saldo debit atau saldo kredit, ada dua cara merancang kolom saldo tersebut (a) dengan mencantumkan kolom D/K untuk memberi tanda D untuk saldo debit dan K untuk saldo kredit di muka angka yang tercantum dalam kolom “saldo” dan (b) dengan membuat kolom saldo debit terpisah dari kolom saldo kredit.
    Rekening piutang, utang dan persediaan umumnya menggunakan bentuk formulir ini.

    KODE

    Kode memudahkan proses pengolahan data karena dengan kode, data akan lebih mudah diidentifikasi.
    Contoh: kode untuk karyawan laki-laki diberi kode L, karyawan wanita kode W.
    Dalam proses akuntansi kode yang digunakan adalah: angka, huruf atau kombinasi keduanya. Dalam komputer untuk memproses data ada istilah kode: alfabetik (menggunakan huruf), numerik (menggunakan angka), alfanumerik (menggunakan kombinasi huruf dan angka).

    Syarat kode yang baik, yaitu:

    Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan adalah:
    o Kode yang disusun perlu disesuaikan dengan metode proses data.
    o Setiap kode harus mewakili hanya satu item sehingga tidak membingungkan
    o Kode ayng disusun harus memudahkan pemakai untuk mengingatnya
    o Kode yang disusun harus fleksibel, dalam arti memungkinkan dilakukan perluasan tanpa perubahan menyeluruh.
    o Setiap kode yang disusun harus fleksibel, dalam arti memungkinkan dilakukan perluasan tanpa perubahan menyeluruh.
    o Setiap kode harus menggunakan jumlah angka atau huruf yang sama
    o Kode yang panjang perlu dipotong-potong (chunking) untuk memudahkan mengingat, Misalnya: kode 60662582549 dapat dibuat 606-258-259.
    o Dalam kode yang panjang perlu diberi kode yang merupakan check digit, yaitu untuk mengecek kebenaran kode.

    MACAM – MACAM KODE

    Kode dapat dibuat dalam berbagai struktur kode yang berbeda. Setiap struktur mempunyai kelebihan dan kelemahan. Oleh karena itu perlu suatu struktur kode yang sesuai sehingga tujuan pemberian kode dapat tercapai.
    Berikut ini macam-macam kode yang dapat digunakan:
    1. Kode Urut Nomor
    Kode yang disusun urut nomor. Agar setiap kode mempunyai jumlah angka (digit) yang sama perlu direncakan dulu jumlah digitnya, misal jumlah digitnya sebanuyak empat angka maka kodenya akan dimulai dengan 0001 dan diakhiri 9999.
    Kode urut ini sederhana, tetapi tidak memenuhi persyaratan fleksibilitas. Sebaiknya kode urut ini digunakan untuk memberi nomor (kode) dokumen atau bukti transaksi.
    2. Kode Kelompok
    Kode kelompok membagi data ke dalam kelompok tertentu. Tiap kelompok akan diberi kode dengan angk, sehingga masing-masing posisi angka kode mempunyai arti. Lebih lengkap lihat kode rekening-2.
    3. Kode Blok
    Dalam kode blok, setiap kelompok data diberi kode dalam blok nomor tertentu. Cara pemberian kode ini dapat memenuhi persyaratan fleksibilitas sehingga dapat digunakan untuk pemberian kode pada rekening. Lebih lengkap lihat kode rekening-rekening.
    4. Kode Desimal
    Setiap kelompok data akan diberi kode 0 sampai 9. Oleh karenanya pengelompokkan data harus dilakukan maksimum dalam sepuluh kelompok.
    Agar kode desimal ini dapat digunakan untuk pengelompokkan data yang luas , dapat disusun kelompok-kelompok yang bertingkat. Lebih lengkap lihat kode rekening-2.
    5. Kode Mnemonic
    Merupakan singkatan dari karakteristik data. Misal, pabrik sepatu, persediaan sepatu pria ukuran besar dapat dibuatkan kodenya SPB (Sepatu Pria Besar). Bisa juga kode ini disusun dengan kombinasi huruf dan angka, misal sepatu pria dengan nomor 42 diberi kode SP42.
    Sebaiknya kode mnemonic ini digunakan bila data atau elemennya (itemnya) tidak terlalu banyak, sehingga tidak menyulitkan pemakainya. Bila terlalu sering perubahan itemnya dan banyak datanya maka pemakai kode akan sulit mengingatnya.
    6. Kode Bar
    Digunakan untuk industri makanan dan minuman diluar negeri (misal: USA) yang menggunakan Universal Product Code (UPC). Tiap pengusaha makanan dan minuman yang berpartisipasi akan diberikan 10 digit sebagai kode produknya. Lima digit pertama berisi kode perusahaan, lima digit berikutnya berisi kode produk.
    Kode bar ini dapat dibaca oleh mesin Automatic Tag Readers, dan langsung diproses di dalam komputer.
    Kode iji juga dipakai dalam perpustakaan, dll.

    KODE REKENING

    Pemberian kode untuk klasifikasi rekening diperlukan karena dapat memudahkan untuk mencari rekening-rekening yang diinginkan. Apabila pembukuan dilakukan dengan mesin maka kode ini tidak dapat dihindarkan dan menjadi sangat penting dan menjadi sangat penting.
    Kode rekening harus disusun secara konsisten.
    Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk dalam memberikan kode yaitu dengan angka, huruf ataupun kombinasi keduanya. Tidak memandang cara mana yang digunakan, kode yang diberikan harus dapat memenuhi syarat-syarat sbb:
    a. Memungkinkan adannya perluasan rekening tanpa harus mengadakan perubahan kode.
    b. Harus mudah diingat
    c. Memudahkan bagi pihak yang menggunakan.
    Berikut uraian tentang penggunaan Kode Kelompok, Blok dan Kode Desimal untuk memberi kode rekening sbb:

    1. Kode Kelompok (Group Code)
    Kode kelompok mempunyai sifat-sifat khusus sbb:
    a. Posisi masing-masing angka mempunyai arti di mana angka paling kiri adalah kode kelompok dan angka paling kanan kode jenis rekening.
    b. Kode kelompok akan terdiri dari angka-angka yang sudah diperkirakan terlebih dahulu.
    c. Setiap kode dalam klasifikasi menggunakan jumlah angka yang sama.
    d. Jika terjadi penambahan kelompok rekening, dpat dilakukan dengan mengubah angka paling kiri.
    Misalnya, klasifikasi rekening akan diberi kode yang terdiri dari 4 angka maka cara memberikan kodenya dapat digambarkan sebagai berikut:

    Untuk kelompok-kelompok yang lain dari contoh di muka akan diberi kode dengan cara yang sama seperti yang telah disebutkan di. Apabila ada rekening dalambuku besar yang perinciannya di buat dalam buku pembantu, maka harus dibuatkan kode untuk buku pembantu. Dalam kode kelompok biasanya buku pembantu di buatkan kode angka yang diletakkan di sebelah kanan kode rekeningnya.

    2. Penggunaan Kode Kelompok untuk Pengawasan
    Apabila informasi akuntansi dipakai untuk mengukur prestasi maka digunakan akuntansi pertanggungjawaban. Yang dimaksud dengan akuntansi pertanggungjawaban adlah suatu sistem akuntansi yang disusun sedemikian rupa sehingga informasi yang dihasilkan menunjukkan tingkat kegiatan yang dikaitkan dengan tanggungjawab orang atau bagian tertentu.
    Pusat pertanggungjawaban ini dapat dibedakan menjadi:
    a. Pusat pertanggungjawaban Biaya
    Yaitu unit organisasi yng dinilai atas dasar biaya yang menjadi tanggungjawabnya, misal bagian produksi.
    b. Pusat pertanggungjawaban Pendapatan
    Yaitu unit organisasi yang dinilai atas dasar pendapatan yang menjadi tanggungjawabnya, misal bagian Pemasaran.
    c. Pusat pertanggungjawaban Laba
    Yaitu unit organisasi yang dinilai atas dasar laba yang menjadi tanggungjawabnya, misalnya anak perusahaan atau devisi perusahaan.
    d. Pusat pertanggungjawaban Investasi
    Yaitu unit orgaisasi yang dinilai atas dasar laba yang menjadi yang menjadi tanggungjawabnya diaktikan denganinvestasinya, misalnya divisi perusahaan.
    Untuk melakukan penilaian prestasi, digunakan anggaran sebagai dasar penilaian. Anggaran ini disusun untuk setiap pusat pertangungjawaban. Agar pencatatan transaksi dapat dikaitkan dengan pusat pertanggungjawaban, disusun kode rekening sedemikain rupa. Biasanya kode rkening ini menggunakan kelompok.
    Berikut contoh kode untuk unit pertanggungjawaban dibuat sbb:

    3. Kode Blok (Blok Code)
    Dalam cara ini juga dilakukan klasifikasi seperti yang dilakukan dalam kode kelompok.
    Kode yang diberikan kepada setiap klasifikasi tidak menggunakan urut-urutan digit seperti dalam kode kelompok, tetapi dengan memberikan satu blok nomor untuk setiap kelompok.
    Jadi disini kode akan diberikan pada setiap kelompok, dimulai angka tertentu dan diakhiri dengan angka tertentu yang merupakan satu blok nomor kode.
    Sebagai contoh penggunaan kode blok, sbb:

    Kelompok Kode Blok
    Aktiva 100 – 199
    Utang 200 – 249
    Modal 250 – 299
    Penghasilan 300 – 399
    Biaya Usaha 400 – 899
    Pendapatan dan Rugi Laba di Luar Usaha 900 – 999

    SUSUNAN BUKU BESAR DAN PEMBANTU

    Buku besar dan buku pembantu dapat disusun sesuai dengan besar kecilnya perusahaan, jumlah pegawai bagian akuntansi dan susunan organisasinya.
    Berikut contoh susunan buku besar dan pembantu untuk perusahaan-2 yang masih kecil sampai yang besar, yaitu:
    1 Perusahaan kecil ; transaksi-transaksinya tidak begitu banyak, sehingga penggolongan transaksi-transaksi tersebut juga tidak terlalu banyak maka rekening-rekening yang digunakan semuanya dimasukkan dalam buku besar. Biasanya pemegang bukunya hanya satu orang ataumungkin pemiliknya sendiri yang melakukan pekerjaan pencatatan. Dalam keadaan seperti posting buku besar dilakukan dari buku jurnal.
    2 Dalama perusahaan besar, transaksi-transaksi cukup banyak dan perlu dilakukan penggolongan yang cukup terinci akan memerlukan jumlah rekening yang cukup besar. Karena jumlah rekeningnya cukup besar, maka beberapa rekening yang perlu dibuatkan rincian akan dibuatkan buku pembantu. Pegawai yang mengerjakan buku pembantu akan tergantung pada jumlah pegawai yang ada di bagian akuntansi dan juga struktur organisasinya. Kalau pegawainya satu orangmaka bukubesar dan buku pembantu dikerjakan oleh orang ayng sama.
    “Posting ke buku besar dan buku pembantu biasanya dilakukan dari buku jurnal.” Tetapi apabila pegwai bagian akuntansi lebih dari saut orang maka pengerjaan buku pembantu dapat diserahkan kepada pegawai lain atu bisa juga buku pembantu diserahkan kepada pegawai alin atau bisa juga buku pembantu dikerjakan oleh seksi-seksi yang berbeda. Dalam keadaan seperti ini buku besar diposting dari bukujurnal (secara periodik) dan buku pembantu diposting dari jurnal atau langsung dari dokumen (bukti) transaksi.
    3 Apabila suatu rekening banyak sekali, misalnya piutang, maka dapat dibuatkan buku rekening kontrol dan masing-masing rekening kontrol ini dibuatkan buku pembantu. Dalam keadaan ini ada 3 buku yaitu: buku besar, buku rekening kontrol dan buku pembantu.
    Pemisahan pekerjaan dan posting dilakukan dengan cara sebagai berikut: Buku besar dan buku rekening kontrol pengerjaannya dipisahkandari seksi yang mengerjakanbuku pembantu. Posting ke buku pembantu dilakukan dari bukti-bukti transaksi.

    KODE BUKU PEMBANTU

    Buku pembantu merupakan kumpulan kumpulan rekening-rekening yang merupakan rincian dari suatu rekening dalam buku besar.
    Untuk mempermudah pembukuan, rekening-rkening buku pembantu akan diberi kode.
    Pada umumnya kode untuk rekening bukupembantu diletakkan di belakang angka kode rekening buku besarnya.
    Kode buku pembantu ini dapat di buat dengan cara yang sama untuk kode blok maupun untuk kode kelompok.
    Misalnya, buku pembantu rekening Biaya Produksi Tidak Langsung Departemen Produksi adalah sbb:
    Upah Tidak Langsung No. Kode
    Pengawas 01
    Inspeksi 02
    Idle Time 03
    Perbaikan Produk 04
    Lembur 05
    Bahan Penolong
    Bahan – A 06
    Bahan – B 07
    Bahan – C 08
    Biaya Produk Lain No. Kode
    Bahan bakar 09
    Suplies 10
    Listrik 11
    PPh Karyawan 12
    Dalam contoh diatas, kode rekening buku pembantu dibuat dengan dua angka sehingga kalau digabungkan dengan rekening kontrolnya maka akan kode untuk masing-masing rekeningnya sbb:
    Rekening Kode
    Pengawas 5211-01
    Inspeksi 5211-02
    Idle Time 5211-03
    Perbaikan Produk 5211-04
    Lembur 5211-05

    DAFTAR PUSTAKA

    Dina,Aulia. 2012. Catatan Akuntansi. [Online]. Tersedia: http://auaudindin.blogspot.co.id/2012/03/catatan-akuntansi.html [02 Maret 2012].
    Mulyadi. 2008. Sistem Akuntansi. Jakarta: Salemba Empat.
    Yusuf, Junaedi & Dr. Erhans A. 2000. Akuntansi Berdasarkan Prinsip Akuntansi Indonesia. Jakarta: PT. Ercontara Rajawali

  19. Fauzani Rohman says:

    NIM/Nama/Kelas :1401840/Fauzani Rohman/Akuntansi2014-A/SIA-1
    Catatan Akuntansi terdiri dari :
    1. Jurnal Umum
    Buku Jurnal yaitu merupakan catatan akuntansi yang dilaksanakan oleh Fungsi Akuntansi sebagai media untuk (1) mencatat transaksi keuangan penerimaan kas berdasarkan dokumen transaksi yang sah, dan (2) menggolongkan transaksi keuangan ke dalam rekening-rekening (akun).
    Transaksi keuangan yang telah dicatat dan digolongkan ke dalam Buku Jurnal, selanjutnya secara eriodic diposting ke dalam Buku Besar.
    Fungsi Jurnal Umum
    Setelah kalian memahami batasan atau pengertian jurnal serta cara-cara dalam membuat jurnal, selanjutnya akan dipelajari fungsi jurnal.

    Jurnal termasuk salah satu proses pencatatan dalam akuntansi dan merupakan penghubung antara transaksi dengan buku besar. Fungsi jurnal ialah sebagai berikut.
    a. Fungsi pencatatan, artinya semua transaksi yang terjadi berdasarkan bukti dokumen yang ada harus dicatat.
    b. Fungsi historis, artinya transaksi yang terjadi harus dicatat sesuai dengan urutan waktu (kronologis).
    c. Fungsi analisis, artinya setiap transaksi yang dicatat dalam jurnal harus merupakan hasil analisis dari bukti-bukti transaksi hingga jelas letak debit/kredit perkiraan beserta jumlahnya.
    d. Fungsi instruktif, artinya pencatatan dalam jurnal merupakan instruksi atau perintah untuk melakukan posting atau memindahkan debit/ kredit ke dalam buku besar.
    e. Fungsi eriodic ve, artinya jurnal dapat memberikan informasi/ pemberitahuan mengenai transaksi yang terjadi.

    Cara Pengisian ke Dalam Jurnal
    Proses pemindahan dari transaksi ke dalam jurnal disebut ”penjurnalan (journalizing)”. Agar dapat memahami secara jelas bagaimana mencatat transaksi ke dalam jurnal, berikut ini diberikan cara-cara pengisian ke dalam jurnal umum.

    a. Mencatat tanggal
    1. Tahun dicatat di kolom tanggal paling atas (pada baris pertama) dan hanya ditulis satu kali pada setiap halaman.
    2. Bulan ditulis di baris kedua pada kolom tanggal.
    3. Tanggal ditulis di baris kedua pada kolom tanggal yang berlajur kecil.

    b. Mendebit perkiraan
    Nama perkiraan yang harus di debit dicatat sebelah atas dan menjorok ke sebelah kiri pada kolom keterangan.

    c. Mengkredit perkiraan
    Nama perkiraan yang harus dikredit dicatat sebelah bawah perkiraan yang didebit, menjorok ke sebelah kanan, dan ditulis pada kolom keterangan.

    d. Lajur referensi
    Lajur ini diisi dengan nomor kode perkiraan apabila jurnal itu telah dipindahkan ke buku besar.

    e. Halaman jurnal
    Halaman jurnal diisi sesuai dengan lembaran jurnal.

    f. Memindahkan jumlah jurnal
    Apabila suatu halaman jurnal yang dipakai sudah penuh, pencatatan transaksi akan dilanjutkan ke halaman berikutnya dengan menuliskan kata ”jumlah dipindahkan” dalam lajur keterangan.

    Setelah itu jumlahkan lajur debit dan kredit (jumlahnya harus sama). Beri tanda sudah dicek dalam lajur referensi.
    2. Buku Besar
    Buku Besar yaitu merupakan catatan akuntansi yang dilaksanakan oleh Fungsi Akuntansi sebagai media untuk (1) meringkas catatan transaksi keuangan yang telah digolongkan ke rekening-rekening (akun), (2) memberikan informasi saldo rekening-rekening dimaksud secara akumulatif.
    Catatan akuntansi berupa kumpulan rekening-rekening dalam Buku Besar selanjutnya secara eriodic disusun ke dalam Laporan Keuangan.
    Buku Pembantu merupakan catatan akuntansi yang dilaksanakan oleh Fungsi Akuntansi sebagai media yang (1) melengkapi (merinci atau menjabarkan) informasi rekening tertentu dalam Buku Besar, dan (2) menjadi alat uji silang terhadap rekening tertentu dimaksud dalam Buku Besar.
    Bentuk Buku Besar
    Bentuk buku besar yang biasa dipergunakan oleh perusahaan dapat dibedakan menjadi dua bentuk.
    a. Bentuk Skontro
    Bentuk skontro adalah bentuk buku besar sebelah-menyebelah atau disebut dua kolom. Contoh bentuk buku besar dua kolom adalah sebagai berikut.

    b. Bentuk Stafel
    Yang dimaksud dengan buku besar bentuk stafel adalah buku besar berbentuk halaman atau disebut juga buku besar empat kolom. Bentuk ini terdiri dari sisa debit dan sisa kredit. Berilah contoh bentuk stafel!
    Cara Melakukan Posting dari Jurnal ke Buku Besar
    Setelah pencatatan ke dalam jurnal selesai, tahap selanjutnya memindahkan catatan yang terdapat dalam jurnal ke buku besar atau disebut posting.

    Ada beberapa langkah bagaimana cara memindahkan dari jurnal ke buku besar, yaitu
    a. pertama, pindahkan tanggal kejadian dalam jurnal ke lajur perkiraan yang bersangkutan pada buku besar;
    b. kedua, pindahkan jumlah debit atau kredit dalam jurnal ke lajur debit atau kredit perkiraan buku besar;
    c. ketiga, catat nomor kode akun ke dalam kolom referensi jurnal sebagai tanda jumlah jurnal telah dipindahkan ke buku besar;
    d. keempat catat nomor halaman jurnal ke dalam kolom referensi buku besar setiap pemindahbukuan.

    Untuk lebih memahaminya, berikut ini diberikan contoh sebagai gambaran yang jelas bagi kamu. Perhatikan garis putus-putus yang ada pada contoh buku jurnal dan buku besar di bawah ini.
    Fungsi Buku Besar
    1. Mengumpulkan data transaksi
    2. Mengklasifikasikan dan mengkodekan data transaksi dan akun
    3. Memvalidasi transaksi yang terkumpul
    4. Meng-update-kan Akun Buku Besar Umum dan File Transaksi
    5. Mencatatkan penyesuaian terhadap Akun
    6. Mempersiapkan Laporan Keuangan

    DAFTAR PUSTAKA
    Tim(2015). Pengertian Fungsi Macam-macam Contoh Buku Besar Jurnal Umum dan Neraca Saldo. Tersedia Online : http://www.ilmuekonomi.net/2015/11/Pengertian-Fungsi-Macam-Macam-Contoh-Buku-Besar-Jurnal-Umum-dan-Neraca-Saldo.html
    Soerya, Ani(2012). Catatan Akuntansi. Tersedia Online : http://anisoerya.blogspot.co.id/2012/12/catatan-akuntansi.html
    Joah, Imania(2013). Jurnal Buku Besar. Tersedia Online : http://imaniajoah.blogspot.co.id/2013/11/jurnal-buku-besar.html

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.